Paradigma Penelitian Sastra

Hamjah Diha*

hamjahdiha.or.id – Sebelum kita mendiskusikan tentang apa itu paradigma penelitian sastra, maka saya akan menjelaskan secara umum terkait apa itu paradigma. Paradigma memiliki seribu satu macam definisi. Dalam kalimat lain bahwa paradigma tidaklah tunggal definisinya. Paradigma berawal dari gagasan yang digagas oleh Plato dan Aristoteles yang mengamati dunia realitas ini. 

Plato dan Aristoteles mengunakan istilah yang berbeda, namun memiliki substansi yang sama. Plato mengatakan bahwa paradigma merupakan sebagai “model”, sedangkan Aristoteles menyebutnya sebagai “contoh”. Namun, kedua istilah yang digunakan oleh pemikir Barat tersebut memiliki kesamaan makna, yakni gagasan seseorang yang melihat realitas bersifat ilmiah atau cara seseorang (peneliti) melihat realitas. 

Namun secara rinci, paradigma tersebut dikembangkan oleh Thomas Khun (1922-1996) melalui bukunya “The Structure of Scientific Revolutions”. Buku tersebut dianggap sebagai karya terhebat dalam dunia filsafat ilmu.

Lisa M. Given, 2004, dalam buku The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods mengatakan bahwa,

A paradigm is a set of assumptions and perceptual orientations shared by members of a research community. Paradigms determine how members of research communities view both the phenomena their particular community studies and the research methods that should be employed to study those phenomena. The paradigm construct was initially developed to make sense of phenomena in the physical sciences. During the last quarter of the 20th century, however, social scientists appropriated the construct to account for the growing interest in and acceptance of qualita- propriated the construct to account for the growing interest in and acceptance of qualitative research methods in a number of social science fields that previously had defined research in quantitative (and often in experimental-design) terms.

Agus Salim, 2006 mendefinisikan sebagai (i) a set of assumptions, dan (ii) beliefs concerning yaitu asumsi yang “dianggap” benar (secara given). Adapula yang mendefinisikan paradigma sebagai jendela mental (mental window), yakni “frame” yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya karena masyarakat pendukungnya telah memercayainya, (Roy dalam Agus Salim, 2006 : 64). Namun, Istilah tersebut (keyakinan dan asumsi) dibantah oleh Khun. Khun menekankan bahwa paradigma tidak dapat dimaknai sebagai seperangkat keyakinan atau daftar aturan, (Khun dalam Nanang Martono, 2015 : 178). Menurut Khun bahwa paradigma merupakan “cara berpikir” atau “pendekatan masalah” sehingga dalam praktiknya paradigma diharapkan dapat membantu dalam merumuskan (apa), (bagaimana), dan (untuk apa) realitas yang ingin di pecahkan oleh peneliti.

Dalam kalimat lain bahwa  paradigma ini mengandung tiga komponen penting dalam penelitian, yakni secara ontologis, epistesmologi, dan aksiologis. Ontologis berkaitan dengan pertanyaan tentang “apakah dunia ini hanyalah fiktif belaka?”. Poin ini menekankan pada pertanyaan dasar, sedangkan epistemologi berkaitan dengan pertanyaan tentang “bagaimana realitas sosial itu dipelajari?”, pada level ini, seorang peneliti mempertanyakan bagaimana ilmu pengetahuan itu didapatkan, dan aksiologis adalah berkaitan dengan manfaatkan ilmu-pengetahuan untuk manusia. Pada level ini peneliti menekankan pada “bagaimana manusia memanfaatkan ilmu-pengetahuan tersebut?”.

Menurut Ritzer dalam Ratna, 2010, mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan metode kualitatif, sedikitnya ada empat faktor yang mempengaruhinya, yakni :

a.  Faktor ontologis, yakni keberadaan objek, yang dengan sendirinya berada di antara masing-masing ilmuwan,

b.  Faktor epistimologi, yakni bagaimana cara memperoleh ilmu-pengetahuan,

c.  Faktor aksiologis, yakni penelitian adalah penilaian, dan

d. Faktor metodologis, yakni keseluruhan proses penelitian yang di dalamnya adalah metode, teori, dan teknik.

Menurut Barker, 2004 mengatakan bahwa :
A paradigm can be understood as a field or domain of knowledge that embraces a specific vocabulary and set of practices. In the philosophy of science the concept of a paradigm is associated with the writing of Thomas Kuhn, for whom a paradigm is a widely recognized field of understanding or achievement in science that provides model problems and solutions to the community of practitioners.

Dalam perkembangannya, paradigma berkembang menjadi emapt bagian, yakni positivisme, post-positivisme, critical theori, dan constructivisme. Perbedaan paradigma tersebut dapat dilihat dari cara pandang masing-masing terhadap realitas yang digunakan dan cara yang ditempuh untuk melakukan pengembangan penentuan ilmu pengetahuan, Agus, (2006 : 68),

a.  Paradigma positivisme

Paradigma posisvisme adalah paradigma yang paling awal muncul dalam dunia ilmu pengetahuan. Paradigma ini muncul di abad ke 19 yang dipelopori oleh founding father sosiolog, yakni Auguste Comte. Auguste Comte melalui karyanya yang berjudul the course of posititive philosiphy merumuskan secara garis besar tentang prinsip-prinsip positivisme. 

Konsep Auguste Comte tersebut dikembangkan oleh Emile Durkheim melalui karyanya yang berjudul rules of the sociological methods. Karya Emile Durkheim inilah yang dijadikan rujukan bagi periset ilmu sosiologi. Dalam karyanya tersebut, Emile Durkheim mengatakan  bahwa ilmu pengetahuan harus bersifat nyata dan tidak khayal. Untuk itu, menurutnya bahwa objek studi sosiologi adalah social fact. Social fact tersebut mencakup pada ilmu bahasa, sastra, sistem hukum, sistem politik, pendidikan dan lain sebagainya.

b.  Paradigma Post-positivisme

Pada dasarnya bahwa munculnya suatu ilmu pengetahuan disebabkan oleh kelemaha-kelemahan pada ilmu pengetahuan sebelumnya. Begitu juga pada paradigma. Paradigma pos-positivisme muncul karena para ilmuwan melihat bahwa positivisme memiliki kelehaman. Dalam kalimat lain bahwa, semangat post-positivisme muncul disebabkan karena ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh positivisme tesebut. 

Menurut para penganut aliran post – positivisme bahwa periset tidak cukup hanya mengandalkan pada pengamatan langsung atas objek yang akan diteliti, akan tetapi harus dibarengi dengan pemahaman metode triangulasi, yakni menggunakan beragam metode, sumber data, periset, dan teori, Agus Salim, (2006 : 70), bukan berati menegasikan pengamatan langsung. Dalam pemahaman para post-positivisme bahwa hubugan periset dan objek yang akan diteliti merupakan hal yang paling penting untuk dilakukan, namun dalam koridor yang netral. Dalam kalimat lain bahwa hubungan periset dengan objek yang akan diteliti tidak akan mempengaruhi kesimpulan yang akan diteliti.

Namun, bagaimana konsep dasar paradigma tersebut dikaitkan dengan objek karya sastra, karena pada hakekatnya, karya sastra didominasi oleh subjektivitas, imajinasi, dan bahkan khayalan. Menurut Khuta Ratna,2018, mengatkan bahwa,
Paradigma penelitian sastra dirahkan pada kemana penelitian sastra itu diarahkan, jawaban-jawaban apa yang diberikan. Pada gilirannya, baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori, metode, teknik, dan proses selanjutnya. Perbedaan dan perkembangan paradigma lahirkan angkatan, periode, generasi, aliran, dan berbagai paham yang lainnya.
Merujuk dari konsep Khuta Ratna di atas, bahwa paradigma penelitian sastra harus diarahkan pada jawaban-jawaban apa yang ingin dicari oleh si peneliti tersebut, sebab karya sastra bukanlah kenyataan yang sesungguhnya. Namun, melalui tokoh – tokoh rekaannya, mengambarkan realitas yang ada. Melalui tokoh-tokoh rekaan itulah, sastrawan mengirim pesan  kepada pembaca. Dalam kalimat lain bahwa secara keseluruhan yang ada di dalam karya sastra tersebut (tokoh, latar, nama, dan lain sebagainya) merupakan suatu imajinasi seorang pengarang. Karya sastra merupakan proses imajinasi yang dimainkan oleh seorang pengarang untuk mengambarkan sesuatu. 
Dalam studi sastra, imajinasi merupakan hal yang paling utama dalam mencari atau membongkar makna dibalik kata-kata yang ada di dalam karya sastra tersebut. Paradigma yang digunakan oleh periset ilmu kealaman dengan periset ilmu kemanusiaan sangatlah berbeda. Menurut Khuta Ratna, 2010, mengatakan bahwa paradigma yang digunakan oleh periset ilmu kealaman adalah paradigma nomotetis, yakni menentukan objek secara konkrit, prosedur penelitian secara pasti, baik secara penyusunan proposal hingga pemilihan instrumen, sedangkan paradigma yang digunakan oleh periset ilmu kemanusiaan adalah mengunakan paradigma ideografis, yakni mengunakan cara yang alamiah. Dalam kalimat lain bahwa, prosedur penelitian dilakukan tanpa ada setting
Paradigma, baik itu dalam ilmu kealaman mauaaapun dalam ilmu sosial atau penelitian sastra merupakan landasan pengetahuan bagi periset untuk memahami gejala sosial sebelum memasuki jenis penelitian, pendekatan, metode, teknik maupun langkah penelitaian selanjutnya, tanpa periset memahami paradigma maka akan mengalami kesusahan dalam menentukan langkah penelitian selanjutnya. Kekuatan paradigma menjadi penentu bagi setiap asumsi yang dimiliki para ahli yang ekplisit menjadi ancangan berpikir mereka, Agus Salim, (2006 : 7)

*Ketua Dewan Pembina Hamjah Diha Foundation dan Staf Pengajar pada FKIP UNIQHBA Loteng

5 thoughts on “Paradigma Penelitian Sastra

  • April 1, 2020 at 2:15 am
    Permalink

    Assalamualaikum wr wb .
    saya senang membaca tulisan ini sebab bahasa yg di gunakan lumayan mudah untuk di mengerti . dan tulisan ini juga banyak sekali mengambil kutipan² dari bbrapa ahli .tetapi .
    Mohon maaf sebelumnya saya ingin mencoba untuk berkomentar di tulisan ini .
    menurut saya alangkah baiknya jika di dalam tulisan ini di berikan arti atau penjelasan contohnya ontologis artinya apa

    sederhananya bisa di dalamnya artinya supaya kita pemula bisa mengerti maksud dari kata tersebut .
    sekian mohon maaf jika ada kata yg tdk baik dalam komentar saya . tapi secara keseluruhan saya menikmati
    membaca tulisan ini.

    Reply
  • April 1, 2020 at 3:26 am
    Permalink

    Assalamualaikum wr wb.
    mohon maaf sebelumnya sya ingin berkomentar di artikel “paradigma penelitian sastra ”
    Saya lumayan sangat menikmati tulisan ini sebab bahasa yg di gunakan tidak terlalu rumit bagi pemula seperti saya ini .
    Paradigma penelitian sastra mungkin menjadi hal yang agak sedikit ekslusif kita bicarakan di dalam dunia akademisi,
    Untuk memang memahami penelitian sastra, saya rasa perlu mengkaji juga pemikiran pemikiran filsuf Islam semisal Ibnu Rusyd, karena teori Islam klasik sangat erat kaitannya dengan sastra.
    Konsep paradigma yang dilihat dari para aliran platonisme dan Aristotelianisme mungkin sedikit gambaran tentang makna epistemologi dari paradigma itu sendiri tapi untuk memahami akar dari ontolgi yakni hakikat dari paradigma itu sendiri mungkin Ibnu Rusyd perlu jadi rujukan .
    Sekian dari sya .mohon maaf jika ada kata kata yg tidak baik dalam penyampaian komentar ini .

    Reply
  • April 1, 2020 at 4:23 am
    Permalink

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    According to me
    Suatu karya untuk di katakan ilmiah tentu harus di dukung oleh pendapat para ahli, karena kita tdk akan lepas dr sejarah atau orang terdahulu. Oleh karenanya seorang peneliti perlu membandingkan penelitiannya dgn paradigma yg ada agar menjadi landasan pengetahuan untuk memahami gejala sosial atau objek tertentu

    Reply
  • April 1, 2020 at 7:21 am
    Permalink

    l think this article is very nice to be red, with many refrences, and every point is extramelly claer..
    moreover when this articles takes refrences from the most popular expert like plato and aristoteles, this is able to make this article be more intresting…
    l said a lot of thanks for mr hamjah diha who has made this importance articles

    Reply
  • April 22, 2020 at 4:59 am
    Permalink

    Pradikma menjlaskan bahwa pendapat seseorang itu berbeda beda namun pada dasarya itu akan sama namun cara menagkap nya berbeda beda dan itu lah manusiawi yang mempunyai pendapat tidak ingin sama dengan orang lain ,dan apa yang dia ketahui itu sangat benar menurut pemikiran masing masing, dan mereka mempunyai sekil atau kemampuan untuk dia gali

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *