Sastra sebagai “The Second Time” dalam Pembalajaran

Oleh : Hamjah Diha*

hamjahdiha.com_Pembelajaran sastra di berbagai sekolah selama ini tidaklah sebanding dengan pembelajaran Bahasa. Dalam kalimat lain, bahwa pembelajaran bahasa lebih dominan dibandingkan dengan pembelajaran sastra. Mungkin pembelajaran sastra dianggap tidak terlalu penting bagi guru, murid atau bahkan institusi pendidikan. Anggapan itu terbukti dengan penggabungan antara mata pelajaran bahasa dan sastra. 

Dan pembelajaran bahasa selalu dominan dalam proses belajar mengajar. Ada dua dugaan, kenapa pembelajaran bahasa selalu dominan dalam proses belajar mengajar. Pertama, mungkin karena pembelajaran sastra tidak terlalu penting bagi kehidupan kita, dan Kedua, mungkin juga karena mutu guru bahasa tidak terlalu memahami sastra sehingga materi sastra tidak dimasukan dalam proses belajar mengajar.

Di sekolah, tidak disebutkan secara khusus mata pelajaran sastra. Sejalan dengan itu, Nugrahami (2011), mengatakan bahwa ibarat laki-laki dan perempuan, sastra mengalami bias jender dibanding bahasa yang terlanjur memiliki mitos sebagai mahluk kuat. Seperti perempuan dalam masyarakat tradisional, pembelajaran sastra mengalami marjinalisasi, inferioritas, dan the second time. 
Itu artinya bahwa kehadiran sastra di dalam pembelajaran dianggap tidak terlalu dibutuhkan oleh murid, guru dan bahkan institusi pendidikan. Padahal karya sastra dalam hal ini cerita rakyat mengandung nilai-nilai moral yang dapat ditanamkan pada siswa sebagai bagian dari penanaman nilai-nilai karakter siswa.

Pembelajaran sastra dan penanaman karakter murid

Fungsi utama sastra adalah sebagai penghalusan budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya, dan penyalur gagasan, imajinasi, dan ekpresi secara kreatif dan konstuktif, Nugrahami (2011). Sebagai karya imajinatif yang memuat rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, tentunya kehadirannya (mata pelajara sastra) sangat dibutuhkan oleh murid di era modern sekarang ini, mengingat penyimpangan moral (amoral) yang terjadi di bangsa ini semakin hari semakin kronis. Penyimpangan moral ini terjadi di semua lini kehidupan. Untuk itu, dibutuhkan sebuah obat yang bisa menyembuhkan penyakit sosial yang sudah kronis ini. Semua orang percaya bahwa yang bisa menyembuhkan penyakit ini adalah salah satunya institusi pendidikan karena institusi pendidikan adalah salah satu lembaga yang mampu meletakkan karakter siswa setelah orang tuanya. 
Apalagi institusi pendididkan sudah mencangkan rumusan tujuan pendidikan, yakni pendidikan karakter. Pembentukan karakter siswa tersebut dilakukan secara sistimatis, koheren dan berkelanjutan. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 pasal 3 secara ekplisit menyebutkan bahwa Pasal 3 UU yang sama menyebutkan: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Secara administrasi, tentunya sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk membentuk karakter anak bangsa sebagai generasi penerus bangsa. Itu terlihat dengan perumusan UU tersebut  di atas. Banyak media yang bisa dilakukan untuk menerjamahkan UU tersebut di atas dalam rangka menanamkan pendidikan karakter siswa, salah satunya adalah melalui karya sastra, baik itu melalui novel maupun cerita rakyat (folklror). 

Banyak penelitian yang mengungkapkan keberhasilan karya sastra (novel maupun cerita rakyat) dalam membentuk karakter siswa, penelitian dalam Negeri maupun Luar Negeri. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Lennard sebagaimana yang dikutip oleh Djiwandono (2014). Lennard menemukan bahwa buku seri Herry Potter merupakan aset pengajaran yang sangat berharga untuk menginternalisasi karakter positif bagi kalangan muda. Dalam temuannya, bahwa buku Harry Potter dapat membantu pembacanya memiliki “higher-order thinking skill (berpikir logis, koheren, dan dengan abstraksi yang baik”. 
Selain Lennard, ada juga Bandung yang melakukan penelitian tentang penanaman karakter siswa melalui media karya sastra. Bandung menyimpulkan bahwa cerita rakyat merupakan warisan dari leluhur bangsa yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar karena dalam cerita rakya memiliki sejumlah nilai-nilai budaya yang dapat dirumuskan dan dimodelkan menjadi suatu referensi penting dalam pendidikan dan pengembangan karakter siswa.

Kedua penelitian tersebut di atas cukup dijadikan referensi penting bagi kita untuk merumuskan dan menanamkan pendidikan karakter siswa melalui karya sastra. Dalam karya sastra, tentunya menyampaikan pesan-pesan moral yang baik untuk dapat dijadikan contoh bagi siswa. Karena karya sastra adalah cerminan dari kehidupan masyarakat sekitarnya. Pengarang mengungkapkan kehidupan masyarakat sekitarnya.

Penanaman karakter siswa melalui karya sastra tentunya dilakukan secara sistimatis  dan koheren. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah (a), pembacaan naska (karya sastra) dilakukan dengan seksama dan mendalam sehingga dapat menemukan nilai-nilai posisitif yang bisa diterapkan pada siswa, dan (b) mengajarkan kepada  siswa nilai-nilai positif yang baik yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Dalam karya sastra, tentunya ada tokoh antagonis dan protagonis. Kedua tokoh tersebut harus dijelaskan secara detail oleh guru.

Supaya tidak terjadi the second class pada pembelajaran sastra di sekolah, maka pembelajaran bahasa dan sastra harus disamakan. Dalam artian bahwa jam mata pelajaran bahasa dan sastra harus seimbang. Dengan kalimat lain, bahwa guru bahasa dan sastra tidak bisa mengajar materi bahasa (tata bahasa) semata dalam kelas. Guru harus menyinggung materi sastra dalam proses belajar mengajarnya, mengingat pentingnya sastra dalam kehidupan. Dalam proses pembelajaran, sastra dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai kearifan dalam menghadapi kehidupan yang kompleks dan multidimensi, (Nugrahani). Sastra merupakan salah satu media untuk menanamkan karakter generasi muda.

Bahan Bacaan

Bandung, AB.  Takko. Pemodelan Nilai-Nilai Budaya dalam Naskah Cerita Rakyat Sebagai Rujukan Pendidikan Karakter Bangsa. Jurnal

Djiwandono, Patrisius I, Dkk. Pengembangan Pembelajaran Sastra Lokal untuk Membangun Karakter Positif  Siswa Sekolah Dasar. Jurnal

Nugrahani, Farida. Pencerahan pembelajaran sastra melalui pendekatan andragogi. Jurnal

*Ketua Dewan Pembina Yayasan Hamjah Diha dan Staff Pengajar pada FKIP UNIQHBA Loteng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *