Muhammadiyah sebagai Gerakan Pencerahan

Oleh : Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M. Si

Hamjahdiha.or.id Kiai Haji Ahmad Dahlan lahir menjadi sang pencerah. Di panggung sejarah dia hadir menjadi diskusi yang mengguncang kesadaran umat di zamannya. Lahir di Kauman Jogjakarta tahun 1869 dan wafat 1923 di usia muda, 54 tahun. Karya terbesar adalah Muhammadiyah, yang dia dirikan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah bertepatan 18 November 1912 untuk mengukir kisah sukses pergerakan Islam yang mencerdaskan dan memajukan kehidupan manusia dan bangsa. Dua kali bermukim di Mekah, dia kembali menjadi mujadid melawan pikiran-pikiran jumud.
Ahmad Dahlan adalah sosok pencari kebenaran Hakiki, yang pemberuannya adalah anti kekerasan alias lompatan di luar kelaziman, demikian tulis Nurcholish Madjid. Dr Alfian dalam disertasinya menjuluki pemimpin Muhammadiyah itu sebagai tokoh reformasi keagamaan, agen perubahan sosial, dan kekuatan politik kebangsaan. Charles Kurtzman hanya menemukan Dahlan sebagai pembawa revivalisme Islam yang liberal, yang berbeda pendapat keislamannya dari kaum revivalis ortodoks. Mas Mansur muda dari Surabaya yang haus ilmu dan perjuangan tertarik masuk Muhammadiyah karena bertemu dengan Dahlan yang berpikir keislamannya sungguh berkemajuan.

Kiai Ahmad Dahlan berkawan dekat dengan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Achmad Sjurkati, Hasyim Asy’ary, dan para tokoh sentral pergerakan nasional. Presiden Muhammadiyah diundang untuk memberikan pencerahan keislaman di hadapan anak-anak muda cerdas seperti Soekarno, Semaun, dan kawan-kawan di kediamannya di Paneleh Surabaya. Meskipun bahkan pernah ke daerah untuk tabligh bersama, Tjokro orator ulung yang menantang etos pergerakan, sedangkan Ahmad Dahlan berpenampilan kalem tetapi pikiran keislamannya tajam menggugah jiwa yang ditunggangi. Di luar itu, Ketua Hoobestuur Muhammadiyah bersahabat dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo dan kalangan Sosialis, serta ikut serta dengan tokoh agama lain tanpa rasa canggung. Jadi ini adalah teladan pemimpin pencerahan yang berjuang penuh totalitas, ikhlas, sabar, keras kemauan, serta berpikiran dan langkah-langkah beretos maju dan berkembang.
Ketika didirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan mengazam gerakan Islam yang didirikannya mengikuti jejak perjuangan Nabi Muhammad. Nabi Zaman Akhir membawa risalah takhrij min al-dhulumat ila al-nur, melepaskan umat manusia dari kegelapan menuju pencerahan, mengubah Yasrib yang semula, komunal, mengembangkan kota peradaban yang berkembang dan mencerahkan, al-Madinah al-Munawwarah. Dari perjuangan menegakkan Risalah Islam yang mencerahkan di Jazirah Saudi diperlukan kemudian umat Islam menguasai dunia dan melahirkan era kejayaan berabad-abad lamanya, kompilasi bangsa-bangsa lain tertidur lelap di abad kegelapan. Itulah risalah pencerahan Islam yang menjadi rujukan misi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam.

Roh Pencerahan

Dalam bahasa Arab, kata “pencerahan” dikirim pada kata “tanwir” yang diperoleh “nur”. Dalam Al-Munjid, kata “nur” memiliki banyak makna di antara yang lain: dhauw-a (jamak: diya-a) berarti menerangi atau menyinari, na-ra yang disebut api yang mengeluarkan cahaya, ra-ya pikiran cemerlang, dan al-munir mengandung makna majjat ​​al-thariq alias tengah jalan yang cerah atau jelas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “pencerahan” berarti proses mencerahkan. Kata “mencerahkan” (kata kerja) mengandung makna menjadikan (menyebabkan) gembira (tidak suram, jernih, dan sebagainya. Kata “cerah” senapas dengan “terang”, “sinar”, “jernih”, lawannya “hitam”, “keruh” , “Suram”.

Muhammadiyah sangat akrab dan menjadi satu-satunya gerakan Islam di negeri ini yang meluncurkan dan menyebarluaskan diksi “pencerahan”, yang diambil dari kata “tanwir”. Dalam Muhammadiyah kata “Tanwir” melekat dengan istilah persidangan di bawah Muktamar, yang dicetuskan pada Muktamar di Banjarmasin tahun 1935. Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr HM Din Syamsuddin, tidak ada organisasi Islam yang menamai permusyawaratan pemanggilannya dengan kata “Tanwir”. Muhammadiyah. Karena itu Sidang Tanwir yang melibatkan para elit Muhammadiyah diharapkan menjadi forum “permusyawaratan pencerahan”, yang membahas pikiran-pikiran serta langkah-langkah maju yang dikembangkan dan mencerahkan.

Jika dirujuk pada Al-Qur’an terdapat 48 kata yang berpangkal dari kata “al-nur” dalam variasi kata “nuura, nurikum, nurihim, al-munir, munira”, sebagai sandaran konsep “tanwir” atau “pencerahan”.

Ayat yang paling dekat antara yang lain pada Surat Al-Baqarah ayat ke-257 yang mengandung anak kalimat “yukhrizuhum min al-dhulumat ila al-nur” (yang diterjemahkan oleh manusia dari kegelapan pada cahaya), yang disebut Allah -Nya, sebaliknya Thagut selaku tuhan kaum kafir “yukhrizunahum min al-nur ila al-dhulumat” (dikeluarkan umat manusia dari petunjuk Allah untuk kegelapan). Maksud “pencerahan” atau “tanwir” itu mengeluarkan umat manusia dari petunjuk jahiliyah tanpa petunjuk Ilahi menjadi perjalan jalan lurus dalam naungan petunjuk Allah. Nama salah satu Surat Al-Qur’an adalah Surat “Al-Nur”, di dalam salah satu ayat ke-35 terkandung Firman Allah, “Allahu nur al-samawati wa al-ardl …”, yang berarti “Allah (memberi) cahaya langit dan bumi … “(Qs. AlNur: 35).

Pencerahan dalam konsep dan pemikiran Muhammadiyah sepenuhnya bertumpu pada nilai ajaran Islam, sehingga dapat dimaknai sebagai “pencerahan Islami”, bukan pencerahan yang lain. Dalam makna ini, pencerahan dan gerakan pencerahan dapat disampaikan sebagai misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah untuk mengeluarkan umat manusia dari segala bentuk “kegelapan” dalam arah menuju pada “cahaya” yang terang, didukung, dan berkilau yang diputar dalam hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad dan diwujudkan dalam kehidupan umat selama 23 tahun di Mekah dan Madinah, serta meluas ke seluruh jazrah Arab, tidak termasuk risalah pencerahan Islam.

Gerakan “pencerahan” di Muhammadiyah tidak mengandung makna sama dengan sebangun dengan sejarah diskusi Barat yang dikenal dengan era “Pencerahan” atau “Aufklarung”. Suatau fase kemajuan nalar modern yang oleh filosof Emanuel Kant dimaknai sebagai “sapere aude”, yaitu suatu era kompilasi manusia yang mengubah “akil balig” di dalam hal yang mempertanyakan dari segi keterbelengguan metafisik menuju ilmu pengetahuan. Dalam pemikiran humanisme-sekuler, pencerahan itu mendukung pembebasan dari agama dan segala sistem pemikiran yang dianggap membelenggu manusia. Tapi dalam hal pentingnya penggunaan “akal pikiran”, “ilmu pengetahuan”, dan. “Maju”, gerakan pencerahan di Barat sangat positif dan memiliki semangat setuju dengan pencerahan di dunia Islam.

Dalam Muhammadiyah penggunaan istilah “pencerahan” radius terpusat di dalam juga ke luar radius Persyarikatan dimulai sejak era Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2000-2005 pada masa kepemimpinan Prof Syafii Maarif, yang terkait pada dua masa kepemimpinan Prof Din Syamsuddin. Dalam “Pernyataan Pikiran Muhammasiyah Abad Kedua” hasil Muktamar Satu Abad tahun 2010 di Yogyakarta secara resmi terkait dengan “Muhammadiyah pada abad kedua mendukung kuat untuk melakukan gerakan pencerahan”. Dalam konteks gerakan Muhammadiyah, penggunaan makna “pencerahan” menjadi “gerakan pencerahan” terkandung untuk memberikan tekanan, penguatan, pendalaman, dan pengembangan pada misi Muhammadiyah yang menjalankan dakwah dan tajdid untuk mengeluarkan umat manusia untuk segala bentuk “kegelapan” hidup menuju ke mana yang lebih baik dalam segala hal yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang berkaitan dengan perundingan dan peralihan gerakan ini sebagai “Gerakan Islam”. Dalam Muhammadiyah “gerakan pencerahan” satu gerakan dengan “gerakan dakwah” dan “gerakan tajdid” yang menjadi misi utama Gerakan Islam ini, yang dalam khazanah dikenal luas sebagai Gerakan Tajdid atau Gerakan Pembaruan, Gerakan Islam Modern, Gerakan Islam Reformis, dan kini Gerakan Islam Berkemajuan.

Islam Pencerahan

Islam adalah agama yang mencerahkan kehidupan umat manusia (din at-tanwir). Kehadiram Islam membawa misi penting untuk melepaskan umat manusia dari segala bentuk kegelapan (kejahiliyahan) menuju pada petunjuk (jalan, ajaran) Allah yang terang-benderang, takhrij min al-dhulumat ila al-nur (Qs Al-Baqarah: 257). Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Allah Melindungi orangorang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (iman) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka untuk kegelapan (kekafiran). Mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di sini. ” (Qs. Al-Baqarah [2]: 257).
Al-Nur atau Cahaya dalam ayat-ayat sesuai dengan banyak tafsir Al-Qur’an adalah petunjuk Allah bagi umat manusia sehingga menjadi terang benderang sesuai dengan kebenaran, kebaikan, kemuliaan, keutamaan, dan hal-hal yang positif lainnya sesuai dengan ajaran Islam dan kebajikan Sunatullah. Dalam sebuah Hadits, Nabi bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah menciptakan-Nya dalam kegelapan, kemudian Allah memberi cahaya-Nya kepada mereka. Barang siapa mendapat cahaya-Nya pada saat itu, berarti ia telah mendapat petunjuk dan barang siapa tidak bermaksud berarti ia memiliki sesat. ” (HR Ahmad dari Ibn Umar).
“Cahaya” yang terang benderang adalah cahaya dari Allah, yaitu hidayah dan ayat Ilahi untuk menyinari umat manusia. Allah-lah sumber cahaya segala kebenaran, kebaikan, dan keutamaan. Dengan demikian dapat diberikan Allah Maha Pencerah dan sumber pencerahan yang hakiki. Setiap insan Muslim mencari kebenaran Ilahi mengikuti jejak Nabi yang dikeluarkan dari segala bentuk kegelapan atau kejahiliyahan menuju kehidupan yang cerah dalam petunjuk-Nya, mereka yang membutuhkan cahaya pencerahan nan sejati. Mereka yang menerima kehidupan dari Allah dan Rasul-Nya. Demikianlah firman Allah di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
UNTUK: “Allah (Pemberi) cahaya (bagi) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak juga di sebelah barat (nya), minyaknya (hampir) hampir-hampir menerangi, Meskipun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbaharui perumpamaan untuk manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ” (Qs. An-Nur [24]: 35).

Islam dengan roh pencerahan mengundang umat manusia pada petunjuk Allah untuk mendukung kehidupan yang tercerahkan di dunia dan akhirat. Firman Allah dalam Al_Qur’an dengan tegas mengutip:

Artinya: “Dengan kitab yang diputuskan Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah melepaskan orang-orang dari bahaya gulita ke cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. ” (Qs AlMaidah [5]: 16).

Menurut Quraisy Shihab, kata “Nur” dengan kontribusi pada surat An-Nur ke-35 mengandung kontribusi makna esensi. Nur adalah cahaya atau sinar yang dapat dilihat secara lahir, langit dan bumi disinari cahaya oleh Allah. Sementara yang immateri adalah “Kebenaran, Keimanan, Pengetahuan, dan lain-lain yang dipahami oleh mata hati”. Nur adalah hidayah dan petunjuk Allah atau hasil dan hasil dari petunjuk itu. Ada pula sebelas makna “Nur” yaitu Agama Islam, Iman, Pemberi petunjuk, Nabi Muhammad saw, Cahaya siang, Cahaya bulan, Cahaya yang menyertai kaum mukminin kompilasi menyebarang shirat atau titian, Penjelasan halal haram dalam Taurat, Injil, Al-Qur’an , dan Keadilan. Sementara menurut Ibn Arabi “Nur Allah” Pemberi hidayah untuk penghuni langit dan bumi, Pemberi cahaya, Penghias, Yang Dzahir tampak jelas, Pemilik cahaya, Cahaya tetapi bukan cahaya yang dikenal.

Pesan-pesan Islam yang lain dapat menunjuk pada pesan pencerahan seperti perintah iqra (Qs Al- -‘Alaq: 1-5), Al-Qur’an sebagai hidayah-bayan-furqan (Qs Al-Baqarah: 189), agar setiap umat Mengubah nasib dan mempertimbangkan masa depan (Qs Ar-ra’du: 11; AlHasyr: 18), membebaskan kaum dhu’afa-mustadh’afin (Qs Al-Ma’un: 1-7; Al-Balad: 11-16 , dst), menjadi khalifah di muka bumi untuk membangun dan tidak untuk menghancurkan (Qs Al-Baqarah: 30; Hud: 61; AlBaqarah: 11; dst.); menunjukkan pesan imperatif Islam mengajarkan agar umatnya menjadi khayra ummah (Qs Ali Imran: 110). Menjadi generasi ulul albab (Qs Ali Imran: 190-191) dan pandai membaca tanda-tanda zaman (Qs Iqra: 1-5). Menjadi khalifah di muka bumi (Qs Al-Baqarah: 30, Hud: 61). Menjadi kerusakan perubahan (Qs Al-Ahzab: 21).
Jika memulai dengan turunkan Al-Qur’an, ajaran pencerahan dimulai dari perintah iqra (Qs. Al- -‘Alaq [96]: 1-5). Kala itu penduduk Arab terbilang al-ummiyun dan hanya ada sekitar 17 orang yang bisa membaca, termasuk di dalamnya pemuda Umar bin Khattab. Iqra adalah penanda kemajuan peradaban bangsa melalui kegiatan membaca, menghimpun, berpikir, mengkaji, membahas, dan segala wujud pekerjaan akal pikiran yang luas-luasnya. Terkait membaca ayat-ayat kauniyah di alam semesta. Dari kerja iqra lahir segala ilmu pengetahuan dan karya-karya pikiran untuk memahami hakikat kehidupan.

Dengan iqra alam dibaca, dihitung, dan diterjemahkan sesuai sunatullah yang pasti dan tidak spekulasi. Dari tradisi iqra pula lahir generasi kaum berilmu dan ulul albab yang mewarisi risalah para Nabi untuk mencerahkan umat manusia.

Ajaran pencerahan antara lain dapat dirujuk pada pertemuan Islam untuk mengangkat harkat martabat perempuan. Ketika bangsa Arab merendahkan dan menistakan kaum perempuan, bahkan kaum lelaki-lelaki yang dianggap rendah dengan menggunakannya, maka Nabi dengan ajaran Islam membebaskannya. Perempuan itu martabatnya sama dengan laki-laki, ada selaku insan fi ahsan attaqwim yaitu sebaik-baik ciptaan Allah (Qs At-Tin [95]: 4). Islam membantah (al-musawah) dan keadilan (al-‘adalah), juga tidak membantah. Laki-laki dan perempuan sama mulianya dan derajatnya tinggi dari ketaqwaannya, bukan dari jenis kelaminnya (Qs Al-Hujarat [49]: 13).

Artinya: “Barangsiapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam situasi beriman, maka akankah kami memberikan petualangan yang baik dan sungguh-sungguh akan kami sampaikan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs Al-Nahl [16]: 97).

Gerakan Pencerahan

Muhammadiyah dalam peralihan abad kedua untuk melakukan gerakan pencerahan. Dalam “Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua” sepenuhnya dinyatakan dan lengkap dinyatakan sebagai berikut: Muhammadiyah pada abad kedua menyetujui kuat untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang diminta untuk diserahkan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan dihadirkan untuk memberikan jawaban atas masalah-masalah berupa kebahagiaan, kebodohan, ketertinggalan, dan persaingan-terkait lainnya yang bercorak struktural dan kultural. Gerakan pencerahan untuk menyelesaikan masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan ekologis, dan bentuk-bentuk kejahatan kekerasan.

Gerakan pencerahan berkomitmen untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi, memuliakan martabat manusia laki-laki dan perempuan, menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan, dan membangun pranata sosial yang utama.

Dengan gerakan pencerahan Muhammadiyah terus bergerak dalam mengemban misi dakwah dan tajdid untuk menghadirkan Islam sebagai ajaran yang mengembangkan sikap tengahan (wasithiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat martabat kemanusiaan laki-laki maupun perempuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, menjunjung tinggi akhlak mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia. Komitmen Muhammadiyah tersebut menunjukkan karakter gerakan Islam yang dinamis dan progresif dalam menjawab tantangan zaman, tanpa harus kehilangan identitas dan rujukan Islam yang autentik.

Muhammadiyah dalam melakukan gerakan pencerahan berikhtiar mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang memihak kaum dhu’afa dan mustadh’afin serta memperkuat civil society (masyarakat madani) bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Dalam pengembangan pemikiran Muhammadiyah berpijak pada koridor tajdid yang bersifat purifikasi dan dinamisaai, serta mengembangkan orientasi praksis untuk pemecahan masalah kehidupan. Muhammadiyah mengembangkan pendidikan sebagai strategi dan ruang kebudayaan bagi pengembangan potensi dan akal-budi manusia secara utuh. Sementara pembinaan keagamaan semakin dikembangkan pada pengayaan nilai-nilai aqidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalatduniawiyah yang membangun keshalihan individu dan sosial yang melahirkan tatanan sosial baru yang lebih relijius dan humanistik.

Dalam gerakan pencerahan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlul-juhdi) untuk mewujudkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam pandangan Muhammadiyah bukanlah perjuangan dengan kekerasan, konflik, dan permusuhan. Umat Islam dalam berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan yang kompleks dituntut untuk melakukan perubahan strategi dari perjuangan melawan sesuatu (al-jihad li-al-muaradhah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (al-jihad li-almuwajahah) dalam wujud memberikan jawaban-jawaban alternatif yang terbaik untuk mewujudkan kehidupan yang lebih utama.

Dalam kehidupan kebangsaan Muhammadiyah mengagendakan revitalisasi visi dan karakter bangsa, serta semakin mendorong gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa yang lebih luas sebagaimana cita-cita kemerdekaan. Dalam menghadapi berbagai persaingan peradaban yang tinggi dengan bangsa-bangsa lain dan demi masa depan Indonesia yang lebih maju maka diperlukan transformasi mentalitas bangsa ke arah pembentukan manusia Indonesia yang berkarakter kuat. Manusia yang berkarakter kuat dicirikan oleh kapasitas mental yang membedakan dari orang lain seperti keterpercayaan, ketulusan, kejujuran, keberanian, ketegasan, ketegaran, kuat dalam memegang prinsip, dan sifat-sifat khusus lainnya yang melekat dalam dirinya. Sementara nilai-nilai kebangsaan lainnya yang harus terus dikembangkan adalah nilai-nilai spiritualitas, solidaritas, kedisiplinan, kemandirian, kemajuan, dan keunggulan.

Pada abad kedua Muhammadiyah menghadapi perkembangan dunia yang semakin kosmopolit. Dalam perspektif kosmopolitanisme yang melahirkan relasi umat manusia yang semakin mendunia, Muhammadiyah sebagai bagian integral dari warga semesta dituntut komitmennya untuk menyebarluaskan gerakan pencerahan bagi terbentuknya wawasan kemanusiaan universal yang menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, kemajemukan, kebajikan, keadaban, dan nilai-nilai yang utama.

Orientasi gerakan yang kosmopolitan tidak sertamerta menjadikan Muhammadiyah kehilangan pijakan yang kokoh dalam ranah keindonesiaan dan lokalitas kebudayaan setempat, serta mencerabut dirinya dari kepribadian Muhammadiyah.

Demikian kandungan makna dan pemikiran tentang “Gerakan Pencerahan” hasil Muktamar Satu Abad tahun 2010 di Yogyakarta seperti dikutipkan secara utuh dan lengkap di atas. Menjadikan “Pencerahan” sebagai isu penting dalam gerakan Muhammadiyah mutakhir sangat relevan ketika berhadapan dengan realitas kehidupan yang masih sarat masalah yang bersifat “pembelengguan”. Kehidupan masyarakat di aras lokal, nasional, dan global saat ini masih ditandai oleh sejumlah problem yang memerlukan pencerahan. Kehidupan global yang sekuler-liberal dan penuh nafsu ekspansi secara politik, ekonomi, dan budaya juga memerlukan pencerahan menuju keadaban sebagaimana tawaran Hans Kung tentang “The Global Etics”, etika global yang membuana. Relasi antarbangsa dan antarnegara masih diwarnai kekerasan, perang, dan invasi seolah menguatkan pandangan adanya neo-kolonialisme. Sebutlah kejahatan dan nafsu perang Israel terhadap bangsa Palestina serta sikap negara-negara adidaya yang gampang sekali bersekutu menyerang negara lain seperti terhadap Irak, yang seharusnya tidak terjadi di zaman modern yang berkeadaban. Itulah wajah dunia global yang masih “jahiliyah” dan memerlukan pencerahan. Karenanya semangat “go internasional” atau “go to the global world” tidak boleh ikut arus dan larut dalam subordinasi, sebaliknya mesti selektif dan disertai gerakan pencerahan.
Ketika dunia yang makin modern terdapat sebagian masyarakat masih terbelenggu alam pikiran mitologis dan kadang irrasional seperti mekarnya klenik, perdukunan dan paranormal, pengkultusan, kemusyrikan, dan segala bentuk ketidakrasionalan maka diperlukan gerakan pencerahan Islam. Menentukan hari dan tanggal baru saja masih dilihat dengan cara lama sebagaimana berlaku dalam masa umat yang “ummiyun” (kaum tak pandai baca tulis), yang belum siap membaca dengan sains yang eksak. Bahkan fenomena alam disikapi dengan cara khurafat sebagaimana zaman mitologis. Wujud “TBC” (syirik, tahayul, bida’ah, khurafat) baru masih hidup dalam masyarakat. Sebagaian masyarakat masih lebih menonjolkan rasa dan citra dalam berdemokrasi dan kurang mengedepankan rasionalitas, meritrokrasi, dan objektivitas. Politik patronase ala zaman tradisional dan feodal masih mewarnai proses demokrasi di negeri ini yang konon paling maju sejajar dengan di Amerika Serikat dan India.

Perangai “suram” lainnya masih dapat didaftar. Sikap hidup hedonis, materialistik, dan memuja kebebasan tanpa batas makin meluas. Politik jadi panglima dan ajang haus kuasa. Kalau seseorang menjadi pejabat negara berasal dari satu gololongan dan partai politik tertentu maka ajimumpung mengurus golongan dan parpolnya sungguh luar biasa, sehingga jabatan pemerintahan itu tidak menjadi milik publik. Selain itu perilaku buruk yang menandakan lemahnya keadaban moral masih meluas seperti korupsi, politik uang, penjarahan kekayaan alam, dan beragam tindakan-tindakan menyimpang lainnya yang merusak sendi kehidupan beragama, berbangsa, bernegara, serta berperikemanusiaan utama. Semua memerlukan pencerahan yang berbasis pada nilai-nilai Ilahiah yang kokoh sekaligus membawa peradaban kemausiaan dan kemasyarakatan yang mulia. Di sinilah pentingnya Muhammadiyah mengusung gerakan pencerahan dalam mengaktualisasikan misi dakwah dan tajdidnya dalam era zaman yang masih banyak membawa nuansa “aldhulumat” secara sistemik itu.

Penutup

Muhammadiyah dalam memasuki abad kedua pasca Muktamar ke-47 dituntut menguatkan komitmen untuk terus menggelorakan gerakan pencerahan sebagai aktualisasi misi dakwah dan tajdid untuk menyebarluaskan dan mewujudkan ajaran Islam yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Islam bagi Muhammadiyah adalah agama pencerahan yang mengeluarkan umat manusia dari segala bentuk kegelapan menuju jalan terang yang dibimbing ajaran Allah yang bersumberkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang maqbulah nan cerah dan mencerahkan. Risalah Nabi Muhammad selama 23 tahun menjadi teladan bagi Muhammadiyah untuk berkiprah tak kenal lelah dalam menyebarluaskan Gerakan Islam Pencerahan. Dengan gerakan pencerahan di era abad ke-21 Muhammadiyah mengemban misi pencerahan dalam menghadapi segala bentuk kejahiliyahan modern, sehingga mampu membawa peradaban utama dalam kehidupan umat, bangsa, dan ranah kemanusiaan universal.

Dalam mewujudkan gerakan pencerahan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajuka kehidupan berwawasan Islam yang berkemajuan maka tanggungjawab seluruh anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah sangatlah besar dan berat karena harus mewujudkan gerakan pencerahan dalam seluruh usahanya sehingga mewujud di bumi kenyataan. Bermuhammadiyah dengan misi pencerahan itu bukan gencar berwacana dan beretorika indah tetapi menuntut meniscayakan dan pergumulan nyata yang penuh komitmen, kesungguhan, pengorbanan, dan pengkhidmatan utama. Muhammadiyah dengan seluruh institusinya harus digerakkan menjadi gerakan Islam pencerahan yang di dalam dirinya benar-benar cerah dan mencerahkan sehingga mampu memajukan umat manusia di ranah lokal, nasional, dan global. Muktamar Muhammadiyah haruslah menjadi ajang pencerahan dan menghasilkan keputusan-keputusan yang cerah dan mencerahkan, sehingga lima tahun ke depan Gerakan Islam yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan ini menjadi pelopor gerakan pencerahan di negeri ini yang kehadirannya memancarkan cahaya rahmatan lil-’alamin ke seluruh semesta raya!

Dalam gerakan yang dimulai, memberdayakan, dan memajuka kehidupan yang berwawasan Islam yang berkemajuan dan pertanggungjawaban seluruh anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah yang lebih besar harus membuat gerakan pencerahan dalam rangka membantu mewujudkan tugas di bumi. Bermuhammadiyah dengan misi pencerahan bukan gencar berwacana dan beretorika indah tetapi menuntut meniscayakan dan pergumulan nyata yang memenuhi komitmen, kesungguhan, pengorbanan, dan pengkhidmatan utama. Muhammadiyah dengan seluruh institusinya harus digerakkan menjadi gerakan Islam pencerahan yang di dalam dirinya benar-benar cerdas dan mencerahkan sehingga mampu memajukan umat manusia di ranah lokal, nasional, dan global.

Sumber : suaramuhammadiyah.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *