Sexy Killers ; Pembunuh Paling Seksi Itu, Bernama Kapitalisme

Hamjah Diha.or.id – “Semua berawal dari ledakan dari dalam tanah. Bum!! Bumi dikupas untuk di ambil batunya. Meski disebut batu, sesungguhnya ia adalah sisa-sisa tumbuh yang mengendap dan tertimbun selama dua ratus hingga tiga ratus juta tahun…,

”Potongan kalimat tersebut di atas merupakan kalimat pembukaan yang terdapat dalam film dokumenter “sexy killers.” Film Sexy Killer merupakan salah satu film dokumenter yang membuat geger manusia sejagat raya nusantara akhir-akhir ini. Film yang dipublish oleh Watchdoc Image tersebut sontak menjadi buah bibir publik, baik itu mahasiswa, elit maupun pejabat negara. Kenapa tidak, karena film yang menyoroti penambangan batu barat itu, dalam dua hari penayangannya, tembus 3,3 juta viwers. Selain itu, dalam film dokumenter tersebut, menyeret sejumlah elit politik (baik yang sedang berkompetisi maupun yang berada dalam lingkaran) yang sedang melakoni bisnis batu bara di berbagai tempat.

Sinopsis Sexy Killer Film Dokumenter

Sexy killer merupakan film dokumenter yang menceritakan tentang penambangan batu bara. Film dokumenter tersebut, bukanlah mengisahkan pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang gadis cantik nan menggoda, tapi kisah tentang percintaan sejumlah elit politik sedang menjalankan bisnis batu bara. Dalam film dokumenter tersebut, sutradara memulainya dengan sebuah pertanyaan terkait bagaimana energi listrik bisa sampai ke kamar-kamar kita seperti yang kita rasakan saat ini. Selain itu, batu bara tersebut didistribusikan ke PLTU di berbagai daerah. Dalam film dokumenter tersebut, juga menarasikan tentang penderitaan warga akibat penambangan batu bara, ada warga yang meninggal di lubang bekas penambangan batu bara, air bersih berubah menjadi keruh, serta tidak sedikit rumah warga miring akibat dari penambangan tersebut. Baca juga : https://hamjahdiha.or.id/2020/04/14/mabuk-beragama/

Analisis Film Sexy Killer

Fillm dokumenter yang di produksi oleh WatchDoc dengan apik menarasikan bagaimana energi batu bara itu, menjadi “pembunuh” bagi warga, terutama kelompok miskin dan perdesaan. Para petani, nelayan, dan kelompok-kelompok kecil yang awalnya sejahtera, sedikit demi sedikit melarat dan bahkan menderita akibat lumpur yang di hasil oleh perusahaan batu bara tersebut. Menurut catatan mereka (Sexy Killers), bahwa para korban “pembunuhan” batubara itu terentang dari hulu hingga hilir. Dari lokasi penambangan sampai tempat batubara itu digunakan. Di lokasi penambangan di Kaltim, misalnya, petani dari Jawa dan Bali yang melakukan transmigrasi pada zaman Orde Baru kini harus berhadapan dengan industri penambangan batubara. Mereka tergusur atau tercemar, (beritagar.id, 2019).

Menurut Foucault bahwa kekuasaan merupakan satu kesatuan dari relasi, dimana ada relasi, di sana ada kekuasaan. Pada umumnya bahwa regulasi yang di buat oleh elit (penguasa) tersebut atas dasar rekomendasi dari ilmuan demi kepentingan politik mereka semata, namun “membunuh” secara pelan-pelan warga kecil.

“Dulu sebelum ada bangunan batubara, sawah tidak rusak. Tidak amburadul. Sekarang sejak ada tambang, rakyat kecil malah sengsara. Yang enak, rakyat yang besar. Ongkang-ongkang kaki terima uang. Kalau kita terima apa? Terima imbasnya. Lumpur..” kata seorang petani yang tak disebut namanya, beritagar.id: 2019

Fenomena tersebut di atas, Michael Foucault menyebutnya dengan power – knowledge. Menurut Foucault bahwa kekuasaan merupakan satu kesatuan dari relasi, dimana ada relasi, di sana ada kekuasaan. Pada umumnya bahwa regulasi yang di buat oleh elit (penguasa) tersebut atas dasar rekomendasi dari ilmuan demi kepentingan politik mereka semata, namun “membunuh” secara pelan-pelan warga kecil. Hal itu terbukti dengan penambangan batu bara yang dilakukan oleh para elit tersebut.

Menurut Sexy Killers, pada kurun 2011 – 2018 ada 32 orang mati tenggelam di bekas lubang tambang di Kaltim. Mirisnya lagi, bahwa gubernur Kalimantan mengeluarkan pernyataan terkait jalan meninggalnya para korban di lubang bekas galian batu bara tersebut. Menurut Gubernur Kalimantan Timur itu bahwa manusia itu bisa meninggal dimana saja. “Mati kan biasa, bisa di mana saja,” gubernurSelain itu, kita juga bisa melihat percakapan seorang petani dengan tim produksi film dokumenter “Sexy Killers” di bawah ini. “Dulu sebelum ada bangunan batubara, sawah tidak rusak. Tidak amburadul. Sekarang sejak ada tambang, rakyat kecil malah sengsara. Yang enak, rakyat yang besar. Ongkang-ongkang kaki terima uang. Kalau kita terima apa? Terima imbasnya. Lumpur..” kata seorang petani yang tak disebut namanya.

Selain itu, regulasi yang dibuat oleh penguasa terkait dengan PLTU yang menggunakan batu bara, jelas menguntungkan para elit yang bergabung dalam bisnis batu bara. Kemungkinan kedepannya, warga Indonesia diharuskan untuk menggunakan batu bara, (wallahu’alam bissawat) dengan alasan bahwa batu bara adalah gampang didapatkan dan lebih murah di bandingkan dengan energi lainnya.Menariknya, Sexy killers, mengirim pesan kepada kita bahwa “pembunuh” sejati bukanlah preman pasar ataupun para begal di jalan-jalan, melainkan “kapitalisme”, perampok sejati negeri ini adalah bukanlah individu per individu, bukan pula kelompok per kelompok, namun gurita kapitalisme yang itu melibatkan semua kubu yang di permukaan seolah nampak berseberangan. Menurut KBBI daring, bahwa kapitalisme adalah pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.Hal itu sangat jelas dinarasikan dalam film dokumenter “sexy killers”.

Sexy killers memperlihatkan sebagian besar elit politik (baik yang sedang berkompetisi maupun yang ada di dalam lingkaran) yang seolah-olah konflik di permukaan, namun mereka satu dalam kapitalis. Dalam kalimat lain bahwa para elit tersebut seolah-olah sedang konflik, namun pada sesungguhnya, mereka sedang berkompromi dalam satu ” KAPITALISME”.

Wallahu’alam bissawat!!

*Ketua Dewan Pembina Hamjah Diha Foundation dan pengajaran teori Sastra pada FKIP UNIQHBA Loteng

Tulisan ini pernah dipublis dilaman kabarmu.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *