Praktik Budaya Rimpu dalam Melawan Arus Globalisasi

Oleh : Hamjah Diha*

Hamjah Diha.or.id – Gencarnya pengaruh globalisasi dan modernisasi, memaksa penduduk pribumi beralih dan bahkan cenderung meniggalkan budaya lokal yang sudah lama melekat pada diri mereka. Sehingga budaya lokal secara terus menerus dikostruksi sedemikian rupa yang membuat nilai dan identitas budaya lokal menjadi kabur dan tidak jelas. Globalisasi dan modernisasi menanamkan semacam sebuah ideologi sehingga penduduk pribumi mau tidak mau harus meniru gaya barat dan bahkan tidak meninggalkan budaya pribumi. Budaya barat yang ditampilkan oleh media seolah-oleh budaya yang penuh dengan nilai, sehingga masyarakat pribumi mau menerimanya dengan senang hati. Inilah fenomena hibrid yang disebut oleh Bhabha. Fenomena hibrid ini membuat budaya lokal menjadi kabur dan tidak jelas maknanya karena keduanya saling bersanding dalam satu ruang. Budaya Barat dan budaya Lokal, memiliki idiologi dan identitas masing-masing. Idiologi dan identitas tersebut melebur menjadi satu.

Bhabha mengatakan bahwa hibrid merupakan metafora bergabungnya dua bentuk yang memunculkan sifat-sifat tertentu, sekaligus meniadakan sifat-sifat tertentu yang dimilikinya. Itu artinya bahwa fenomena hibrid memgandung ambivalensi, di satu sisi ingin sifat-sifat yang dimiliki oleh kedua budaya tersebut ingin dimunculkan dalam satu ruang dan waktu, sedangkan di sisi lain, sifat-sifat tersebut ingin di bunuh dan memunculkan sifat yang lain. Femonema itu sesungguhnya terjadi di seluruh daerah nusantara, terlebih lagi di daerah Bima.

Suku Mbojo (Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu sebagai rumpun suku Mbojo) merupakan salah satu suku yang ada di Nusantara, yang tentunya memiliki budaya tersendiri sebagai sebuah identitas kedaerahannya. Salah satu budaya yang dimilikinya adalah budaya rimpu. Budaya rimpu merupakan cara berbusana masyarakat suku Mbojo khususnya kaum perempuan dengan menggunakan sarung khas suku Mbojo yang mengunakan dua lembar sarung dengan tujuan untuk menutup aurat.

Budaya rimpu merupakan sebuah identitas bagi kaum perempuan suku Mbojo. Cara berbusana ini diangap memiliki nilai kesopanan mengingat suku Mbojo adalah mayoritas warga Islam. Dalam pemahaman Islam bahwa menutup aurat adalah tindakan kesopanan yang dilakukan oleh warganya. Walaupun tidak bisa kita nafikan bahwa nilai kesopanan ini sangat relatif. Dalam artian bahwa nilai kesopanan ini tergantung bagaimana masyarakat setempat melihatnya. Namun sayangnya, budaya Rimpu dianggap kolot oleh generasi muda suku Mbojo. Anggapan ini diperparah oleh derasnya arus globalisasi dan modernisasi yang begitu cepat yang menyebabkan rasa cinta anak muda khususnya kaum perempuan perlahan-lahan memudar terhadap budaya lokal.

Anak muda mengangap bahwa budaya rimpu sebagai budaya busana kampungan dan stagnan. Dewasa ini, Budaya Rimpu dipakai pada saat-saat serimonial semata, misalnya pada hari kelahiran daerah, dan lain sebagainya sehingga jarang kita temui dalam keseharian generasi muda khususnya kaum perempuan Bima.  Generasi muda lebih cenderung memilih menggunakan jilbab yang trend mode yang mengikuti perkembangan zaman dan menawarkan kreasi hijab kontemporer dengan berbagai pola berbusana hijab yang menarik dari pada memilih budaya rimpu. Budaya rimpu yang mestinya menjadi kebanggaan dan ikon suku Mbojo justru di “singkirkan” di daerahnya sendiri dan beralih ke budaya kontemporer.

Rimpu vs Jilbab (fashion)

Gaya hidup khususnya dibidang fashion merupakan ruang pertarungan idiologi sekaligus peleburan identitas budaya masing-masing. Hadirnya fashion dikalangan anak muda secara tidak langsung mematikan budaya lokal (rimpu) kerena mereka beralih pada jilbab sehingga wajar budaya rimpu jarang kita temukan dalam keseharian anak muda suku Mbojo khususnya kaum perempuan. Kaum perempuan suku Mbojo bahkan tidak tahu menahu tentang bagaimana menggunakan rimpu. Rimpu merupakan suatu pilihan yang tepat bagi stake holder suku mbojo mengingat masyarakat suku mbojo adalah mayoritas muslim. Dalam kontek ke-Islam-an, menutup aurat merupakan salah satu cara untuk membumikan nilai-nilai islam dalam diri kaum perempuan.

Menurut M. Hilir Ismail dalam Yayi Sundari (2010) dalam artikelnya bahwa keberadaan rimpu merupakan cara pemerintah (sultan Nuruddin) untuk mempertahankan budaya mbojo sekaligus memanfaatkan kain sarung tenun suku mbojo yang sudah lama dikenal bahkan menjadi komoditi perdangan dunia sejak abad 13 lampu. Pada saat itu, konon katanya bahwa kaum perempuan yang sudah akil balik diwajibkan menggunakan rimpu sebagai alat penutup aurat jika keluar rumah, jika tidak maka mereka sudah melanggar hukum agama dan hukum adat. Hukum agama yang dilanggar oleh meraka adalah mereka mengumbar auratnya dihadapan umum. Dalam konntek agama Islam, mengumbar aura dihadapan umum adalah  salah satu melanggar hukum agama. Sedangkan hukum adalah tidak merasa malu dilihat sama lawan jenisnya. 

Keberadaan rimpu di tanah mbojo (kabupaten Bima, kota Bima dan kabupaten Dompu sebagai rumpun suku) tidak terlapas  dengan keberadaan negara islam di Bima pada masa kesultanan sejak tanggal 15 rabiul awal 1050 H bertepatan dengan tanggal 5 juli 1940. Pilihan rimpu pada saat itu merupakan petanda sebagai wanita muslim sejati di mbojo. Pilihan rimpu tidak terlapas dengan nilai-nilai ke-Islam-an di daerah mbojo. Pilihan itu didukung dengan moto bima yang berbunyi “maja labo dahu”. Maja labo dahu yang artinya kurang lebih “malu dan taku jika mengumbar aura dihadapan publik”. Namun moto itu tergerus oleh arus globalisasi dan modernisasi yang memaksa kaum pribumi untuk mengikuti arus perkembangan zaman. Hilangnya budaya rimpu di daerah mbojo bersamaan dengan hilangnya “maja labo dahu”. Kaum perempuan sudah tidak merasa malu menggunakan pakian yang seksi di hadapan publik.

Rimpu dengan kreasi  tenun yang inovasi

Rimpu dan tenun merupakan dua sejoli yanng tidak mungkin dipisahkan. Ia bagaikan gula yang tidak mau lepas dengan manisnya. Untuk itu, diperlukan kreasi tenun yang inovasi kekinian sehingga generasi muda khususnya kaum perempuan tidak merasa ketinggalan dan kolot jika menggunakan rimpu dalam konteks kesehariannya. Para penenun melakukan kreasi yang inovatif mengikuti setiap perkembangan zaman sehingga tampilan dalam rimpu selalu menarik dengan ciri kedaerahan sebagai identitias suatu daerah.

Upaya melestarikan budaya rimpu

Derasnya arus informasi, sepertinya sulit untuk dihindari oleh generasi muda khususnya kaum perempuan mbojo sebanding dengan perubahan yang kita rasakan begitu cepat. Tidak terlepas dengan perubahan-perubahan dalam konteks fashion yang menawarkan berbagai model. Untuk itu, diperlukan kreasi tenun yang inovatif. Kreasi tenun yang inovatif merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya rimpu di daerah Mbojo (kabupaten Bima, kota Bima, dan kabupaten Dompu sebagai rumpun suku).

Selain itu, dibutuhkan regulasi dari pemerintah untuk menetukan hari budaya di daerah Mbojo. Di hari budaya tersebut, diwajibkan bagi warganya untuk mengenakkan budaya rimpu. Kebijakan tersebut seperti yang disebut oleh foucault sebagai bangunan wacana. Wacana dalam pandangan foucault, tidak hanya cara berbicara, melainkan juga cara berpikir dan bertindak yang dibentuk secara bersama-sama oleh satu rangkaian hubungan tertentu.  Merujuk dari foucault tersebut, maka pemerintah dibutuhkan sebuah bangunan wacana yang membentuk suatu kebijakan sehingga dalam prakteknya budaya rimpu dapat eksis.

*ketua dewan Pembina Hamjah Diha Foundation dan Staf pengajar pada FKIP UNIQHBA

Pernah di publis di suara ntb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *