Asal Mulanya Bahasa

Oleh; Hamjah Diha*

Bahasa merupakan alat yang paling vital dalam kehidupan manusia, yang membutuhkan bahasa bukan saja mahkluk yang namanya manusia, akan tetapi semua mahkluk hidup lain pun membutuhkan yang namanya bahasa tersebut. Pasalnya, bahasa sebagai alat komunikasi anatar sesama. Untuk itulah “bahasa” di anggap penting dalam kehidupan. Jika seseorang tidak memiliki bahasa maka ia sudah pasti akan sulit mengungkapkan pikirannya kepada orang lain. Misalnya saja, seorang filsuf tidak akan mampu mengungkapkan hasil renungannya kepada orang lain tanpa ia memiliki Bahasa. Dalam teori sosiologi mengatakan bahwa salah satu kebutuhan manusia adalah berinteraksi dengan sesama. Interaksi antar sesama tentu membutuhkan bahasa. Pertanyaan kemudian adalah “ Apakah bahasa itu dan dari mana datangnya bahasa itu?”.

Apakah bahasa itu?

Bahasa merupakan alat untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan kepada orang lain. Ronald sebagai mana yang dikutip oleh Asep  dalam buku filsafat bahasa, (2009; 22), mengatakan bahwa “A system of arbitrary vocal symbols used for human communication”. Dari definisi itu terdapat kata “symbol”. Symbol yang artinya “sign” (tanda).  Jadi kata symbollah yang digunakan untuk alat berkomunikasi antara sesama. Misalnya, awan tandanya datang hujan. Symbol atau lambang mempunyai  fungsi khusunya dari consensus atau mufakat kelompok sosial dan tidak mempuyai efek apapun bagi setiap orang yang tidak mengenal consensus tersebut.

Darimana datangnya bahasa itu?

Ada  2 (dua) pendekatan untuk menjawab pertanyaan di atas;

Pendekatan yang pertama mempercayai bahwa bahasa itu datang dari Allah atau dalam Agama lain Tuhan (atau kemungkinan ada sebutan lain, saya tidak terlalu paham tentang agama lain). Asep (2009; 21) misalnya. Asep menyebut bahwa bahasa merupakan karunia Alllah untuk manusia, maka upaya mengetahuinya merupakan suatu kewajiban dan sekaligus merupakan amal saleh. Dalam kita suci Ummat Islam juga secara tidak langsung menjelaskan tentang datangnya sebuah bahasa. Hal itu bisa kita lihat dari komunikasi Alah dengan mahluknya (malaikat) di saat Allah menciptakan mahluk yang namanya manusia. di saat itu pula malaikat berkeberatan. “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, sedangkan mereka adalah orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau!” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.

Dari ayat di atas, kita lihat terjadi komunikasi antara Allah dengan mahkluknya yang tentu menggunakan sebuah bahasa. Entah bahasa apa (lisan, symbol, dan bahasa apalah) yang digunakan yang jelas itulah sebuah bahasa. Setelah proses penciptaan selesai, Allah pun membimbing Adam untuk mengetahui seluruh nama-nama benda yang ada di muka bumi tempat Ia tinggal. “Dan Allah mengajarkan kepada Nabi Adam semua nama-nama benda”. Itu artinya bahwa Allah telah melengkapi manusia yang Dia ciptakan itu dengan sebuah bahasa. Dalam kalimat lain bahwa, bahasa itu merupakan bawan manusia sejak ia lahir.

Noam Chomsky seorang profesor linguistik asal Philadelphia, Amerika Serikat merumuskan teori bahasa. Chomsky memperkenalkan bahasa dan warisan budaya leluhurnya. Dalam bukunya Logical Structure  of Linguistic theory, Chomsky menjelaskan bahwa kemampuan bahasa seseorang bukanlah produk (setting) alam, melainkan lebih pada potensi bawaan manusia sejak lahir. Chomsky melalui teori LAD (Language Aquecition Device), mengatakan bahwa bahasa tersebut sudah tersusun dalam otak manusia kemudian manusia tersebut mengungkapkan kembali (out put), dan out put itu bagi Chomsky merupakan behaviourisme.

Pendekatan yang kedua bertolak belakang dengan pendekatan pertama, pendekatan ini tidak percaya bahwa bahasa bukanlah pemberian Tuhan, kalaupun seandainya bahasa itu adalah pemberian Tuhan maka tidaklah mungkin ada bahasa yang kotor–kotor atau bahasa yang tidak pantas di ucapkan oleh manusia kepada temannya. Mereka percaya bahwa bahasa tersebut merupakan hasil adaptasi manusia dengan alam. Dalam kalimat lain bahwa bahasa tersebut merupakan datang dari manusia itu sendiri dengan meniru suara alam. Teori ini di kenalkan oleh Leonard Bloomfield. Seorang linguistik stuktural berasal dari Amerika Serikat. Teori  tersebut dikenal dengan terori “bow-bow”. Melalui teori bow-bow, Chomsky mengatakan bahwa bahasa tersebut merupakan salah satu ikhtiar manusia untuk meniru suara brisik/alam. Dalam kalimat lain bahwa bahasa tersebut lahir dari suara alam dan anamatope, yakni meniru suara alam. Bunyi yang di timbulkan oleh alam tersebut ditiru oleh manusia, maka lahirlah sebuah bahasa.

(Staf Pengajar di FKIP UNIQHBA dan Ketua Dewan Pembina Hamjah Diha Foundation)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *