Dari Perang Senjata Hingga Perang Budaya

Oleh : Hamjah Diha*

Hamjah Diha.or.id -Lebih kurang 3,5 abad bangsa Indonesia dijajah, tentu saja kisah sukses ini masih segar dalam ingatan kita, karena kisah sukses ini membawa kemenangan yang sangat lengkap. Penderitaan yang di alami oleh masyarakat Nusantara kala itu tidak hanya penderitaan fisikli, tetapi penderitaan psykis juga di alami oleh nenek moyang kita. Penyiksaan mulai dari penyiksaan fisik (pemerkosaan, pembunuhan dan sejenisnya) hingga makian.

Kisah di atas berlanjut sampai sekarang, namun caranya yang berbeda. Para pendahulu kita perang dengan angkat senjata sedangkan sekarang perang melalui budaya. Dalam artian bahwa budaya Barat (western) tak henti-hentinya menggerogoti budaya kita (Indonesia). Barat berhasil menciptakan sebuah jaringan semiotika kehidupan dalam masyarakat. Jaringan itu bernama “gaya hidup”. Gaya hidup atau sejenisnya merupakan produk budaya Barat yang sedikit demi sedikit ingin menghancurkan budaya kita (Indonesia) yang sudah lama tertata rapi dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Gaya hidup atau sejenisnya merupakan sebuah ideologi kapitalis yang menjadi “tuhan-tuhan” baru bagi masyarakat kita masa kini.

Anehnya, gaya hidup tersebut tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat elit semata, akan tetapi, hal itu juga terjadi di masyarakat awam. Gaya hidup, seolah-olah tidak bisa dihindari dalam kehidupan masyarakat, karena sudah tertanam dalam pikiran masyarakat bahwa tidak akan indah hidup ini tanpa memoloes diri. Dalam pandangan mereka seolah-olah memoles diri tak akan berakhir. “aku ada karena aku memoles diri”. 

Fenomena ini Gramsci menyebutnya sebagai hegemoni budaya. Hegemoni dalam pandangan Gramsci tidak dicapai hanya dengan kekerasan, akan tetapi terjadi dengan kerelaan. Dalam hal ini, hegemoni dicapai dalam kerelaan. Dalam artian bahwa gaya hidup yang diciptakan oleh Barat (western) diterima secara sukarela oleh masyarakat kita. 

Hegemoni Budaya

Dalam konteks kekinian, Gaya hidup atau sejenisnya dipahami sebagai perubahan prilaku masyarakat mulai dari tingkat masyarakat elit sampai ke masyarakat kecil yang cenderung beralih pada nilai dan budaya Barat (westernisasi) sehingga pada akhirnya, budaya lokal yang bersifat fatalistik dinegasikan dan gantikan dengan nilai dan budaya Barat (westernisasi) yang bersifat individualistik. Misalnya prilaku para pejabat kita akhir-akhir ini kurang tanggap dengan kondisi masyarakat kecil.

Di tengah maraknya kemerosotan moral, kemiskinan, serta keringan air yang melanda masyarakat kecil, justru DPRD malah ribut dengan membuat kebijakan untuk menaikan tunjangan rumah (walaupun tidak jadi). DPR yang sejatinya membuat kebijakan yang pro kepada masyarakat kecil, justru malah sibuk dengan membuat kebijakan yang mementingkan kepentingan individu dan kelompok (bossime). Fenomena ini merupakan dampak dari gaya hidup yang dicipakan oleh Barat melalui hegemoni.

Gaya hidup dan sejenisnya, tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan didukung oleh berbagai institusi, tak terkecuali pengetahuan. Sejalan dengan, Foucault dengan konsep “relasi-kuasa”nya melihat bahwa pengetahuan mengandung kekuasaan (power). Bagi Foucault bahwa pengetahuan dan kekuasaan tidak bisa dipisahkan, ia bagaikan gula dengan manisnya. Jadi, pengetahuan dijadikan sebagai alat atau sarana untuk melenggangkan ideologi dan kultur dominan melalui hegemoni, dan pada akhirnya, gaya hidup menjadi dominan dalam kehidupan masyarakat. Gaya hidup merupakan budaya masyarakat kapitalis yang profit oriented.

Perang Budaya

Gaya hidup merupakan produk budaya Barat yang perlahan-lahan menghancurkan budaya Timur (Indonesia). Dalam konteks kekinian, gaya hidup seolah-olah menjadi budaya Timur (Indonesia) yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat. Produk yang dibuat oleh Barat seolah-olah mengambarkan reallias nyata (real reality), padahal itu merupakan gambaran realitas buatan (simularca) semata. Beberapa bulan yang lalu, di salah satu Mall yang ada di pulau lombok (pulau seribu mesjid), salah satu perusahan mengiklankan salah satu produknya, namun di samping produk tersebut berdiri seorang perempuan seksi dengan penampilan yang aduhai, penampilan yang seksi. Kalau dianalisis lebih mendalam bahwa tidak ada korelasinya antara produk yang diiklankan dengan perempuan seksi tersebut. Bagi saya, dalam iklan tersebut ada dua permasalahan. Pertama; perempuan dijadikan objek tontonan oleh  publik, dan yang kedua; Barat berusaha meninabobokan masyarakat Lombok yang notabenenya pulau seribu mesjid dengan budaya mereka. Barat berharap ada suatu percampuran budaya (hibrid) antara Barat dan Lombok. Dalam artian bahwa, setidaknya pakian yang seksi yang ditampilkan oleh perempuan dalam ilkan tersebut secara perlahan-lahan diikuti oleh masyarakat Lombok. 

(Staf Pengajar di UNIQHBA Loteng dan Ketua Dewan Pembina Hamjah Diha Foundation)

Di terbitkan oleh MetroNTB pada tanggal 13 Januari 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *