Karl Marx dan Kiai Dahlan: Titik Temu Pemikiran

Oleh : Rifqy Naufan Alkatiri

Hamjah Diha.or.id – Karl Marx dan Kiai Dahlan memang adalah dua tokoh dengan background keilmuan yang berbeda. Ahmad Dahlan sebagai seorang Kiai dengan ilmu keagamaan dan sosial. Sedangkan Karl Marx sebagai seorang polymath dalam bidang ekonomi, sosiologi bahkan Filsafat. Akan tetapi pemikiran Karl Marx dan Kiai Dahlan memiliki titik temu dalam aspek pembebasan. Pemikiran Karl Marx dan Kiai Dahlan sama-sama mengenalkan gerakan pembebasan. Karl Marx dengan paham materialisme historis atau materialis sejarah dan Kiai Dahlan dengan paham teologi Al-Ma’un-nya. Dua hal yang digagas melalui dasar yang berbeda namun memiliki suatu persamaan dalam pembahasannya. Keduanya dilatarbelakangi oleh pengamatan atas kondisi masyarakat sekitar yang mereka hadapi yang juga jelas berbeda.

Pemikiran Karl Marx

Karl Heinrich Marx tumbuh di tengah pergolakan politik yang dikuasai oleh kekuatan kapitalis para Borjuis yang menentang kekuasaan aristokrasi feodal dan membawa perubahan hubungan sosial. Marx juga hidup dalam keluarga yang serba kekurangan, bahkan adiknya meninggal karena kelaparan. Setelah menikah pun dia tetap hidup dalam keadaan susah, tidak memiliki pekerjaan tetap dan tanpa penghasilan. Menurutnya, semua itu karena ulah kaum kapitalis yang hanya sibuk mementingkan dirinya sendiri. Sehingga muncul istilah “Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.” Atas dasar itulah Marx mengeluarkan pemahaman materialisme yang juga dipengaruhi oleh filsafat Feurbach.

Materialisme Marx terbagi menjadi dua, yaitu materialisme dialektis dan materialisme historis. Keduanya sama-sama didasari atas peristiwa revolusi industri dan perjuangan kelas kaum proletariat atas kaum borjuis. Hanya saja yang membedakan adalah jika materialisme dialektis masih dan berhenti pada sekedar dialektika atau ungkapan-ungkapan, kritik-kritik dan retorika saja.Maka materialisme historis sudah terwujud dalam aksi sosial yang revolusioner. Semua insan pasti bisa untuk melakukan materialisme dialektis, karena semua pasti bisa dan dengan mudah untuk mengungkapkan sesuatu. Namun, hanya orang-orang terpilih dan tergeraklah yang dapat melakukan materialisme historis. Akhirnya sebagai tindak lanjut dari teori ini, muncullah gerakan revolusi buruh yang berusaha meruntuhkan perbedaan kelas sosial. Namun hingga kini pun, sejatinya perbedaan kelas sosial itu takkan pernah hilang dan akan terus terlihat nyata. Teori materialisme inipun berlanjut dan masih berhubungan dengan yang namanya sosialisme.

Karena sejatinya, esensi pemikiran filsafat Marx adalah materialisme historis dan sosialisme adalah muara imajinasinya. Dari sosialisme inilah semakin terang gerakan-gerakan yang menyamakan kedudukan setiap manusia, dan juga memanusiakan manusia.

Pemikiran Kiai Dahlan

Kiai Dahlan sangat tergugah hatinya tatkala membaca tafsiran tujuh ayat surat Al-Ma’un.Kiai Dahlan selalu mengkaji dan mengajarkan surat ini kepada murid-muridnya, hingga satu hari ada seorang murid yang bertanya apa tidak ada surat lain yang bisa dibahas. Maka dijawab dengan tegas oleh Kiai Dahlan, “Sudahkah kamu memperhatikan kondisi masyarakat sekitarmu yang membutuhkan? Sudahkah kamu amalkan ajaran dari surat Al-Ma’un ini? Apa yang sudah kamu lakukan untuk masyarakatmu?”. Untuk apa mengkaji yang lain jika masalah kemiskinan ini belum selesai. Pernyataan ini tentu dengan mempertimbangkan isi dari surat tersebut. Lebih dari itu, Kiai Dahlan juga menegaskan bahwa Islam harus turut menyelesaikan problem kemiskinan dan masalah terkait di masyarakat.

Surat ini juga yang kelak menjadi salah satu dasarnya dalam mendirikan Muhammadiyah. Islam yang diinginkannya adalah Islam yang bukan hanya berbicara ibadah ritual saja, tapi juga terhadap penderitaan manusia, karena itulah bukti kongkrit dari rahmatan lil ‘alamin. Gagasan-gagasan inilah yang kemudian dikenal sebagai teologi Al-Mā’ūn, atau juga teologi sosial, teologi mustad’afin bahkan ada yang menyebutnya teologi kiri. Maka tak heran jika kita meminjam istilah dari Buya Syafii Maarif, bahwa orang Muhamamdiyah haruslah menjadi Ma’unisme yang siap mengamalkannya. Karena hingga kini belum dirumuskan bingkai teori yang sistematis dan radikal berdasakan pemahaman ayat yang fenomenal ini. Hal tersebut terefleksikan dari gerakan sosialnya yang mendirikan sekolah gratis, pengobatan gratis, memberi makan orang miskin, mempekerjakan mereka dan masih banyak lagi. Karena sejatinya kemiskinan itu bukan hanya soal harta, tapi juga miskin ilmu, miskin kesehatan dan sebaginya. Bila dilihat hingga kini, Muhammadiyah tetap konsisten berada di jalannya. Hal ini dibuktikan dengan amal usaha Muhammadiyah yang terus berkembang biak seperti rumah sakit Muhammadiyah, panti asuhan, sekolah-sekolah dan sebagainya. AUM tersebut merupakan ladang dakwah dan gerakan sosialnya. Dari sini jelas terlihat, betapa sosialisnya seorang Ahmad Dahlan. Seorang Kiai yang progresif dan juga filantropis.

Titik Temu Pemikiran Marx dan Dahlan

Apabila berkaca dari pembahasan-pembahasan yang telah diuraikan di atas. Maka, ada satu titik temu dari materialisme historis dan sosialis Karl Marx dengan teologi Al-Ma’un Kiai Dahlan. Keduanya sama-sama melakukan gerakan pembebasan dalam masyarakat. Yakni pembebasan dari belenggu kemiskinan, keterpurukan dan perbedaan kelas sosial. Meskipun bertolak pada sumber dan latar belakang yang berbeda, namun, jika dilihat dari segi pendorongnya, maka kita akan menemukan kembali titik persamaannya. Yaitu pengamatan atas kondisi masyarakat sekitar dan kehidupan mereka sendiri. Kedua-duanya menilai harus ada orang yang merubahnya, atau jika tidak maka hal tersebut akan terus terjadi. Mereka semua juga telah melakukan aksi nyata untuk mewujudkan paham yang diajarkan dengan caranya masing-masing sesuai konteks zaman. Satu lagi hal yang menarik dari dua tokoh dan pahamnya ini, yakni para pengikutnya hingga kini masih melakukan apa yang diajarkan mereka kurang lebih seabad yang lalu. Karl Marx dengan Marxisnya dan Kiai Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa ajaran Karl Marx dan Kiai Dahlan itu di satu titik sinkron dan sejalan. Bahkan bisa jadi Kiai Dahlan adalah seorang Marxis yang memadukan pikiran-pikiran Karl Marx dengan ajaran agamanya walaupun tidak terang-terangan dan garis keras.

Tapi ini masihlah opini penulis yang masih butuh pengembangan. Keduanya sama-sama mengajarkan hal yang baik dan berguna untuk masyarakat. Kinilah saatnya kita hapus stigma-stigma negatif tentang ajaran Marx, karena dia hanyalah pemikir yang kadangkala mungkin pikirannya tidak cocok dengan kita. Bila kita mau menerima teologi Al-Ma’un-nya Ahmad Dahlan, tapi menafikan materialisme historisnya Karl Marx, itu tidak logis. Karena kedua-duanya itu sebenarnya sama, hanya beda nama dan penafsiran saja. Jadi mari kita sebisa mungkin amalkan ajaran dua tokoh besar ini, dengan usaha-usaha kita masing-masing, dengan jalan yang berbeda-beda tapi tujuan yang sama, yakni pembebasan masyarakat.

Sumber : https://ibtimes.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *