Tekot : Sebuah Identitas yang Luntur

Oleh: Randa Anggarista*

hamjahdiha.or.id – Indonesia sebagai salah satu bangsa yang berbentuk kepulauan, terdiri dari berbagai bentuk kebudayaan yang melingkarinya. Setiap wilayah yang ada di ruang lingkup Indonesia, memiliki tradisi masing-masing. Hal itu sekaligus sebagai ciri khas serta identitas dari wilayah tersebut. Kebudayaana menjadi suatu parameter dan tolak ukur bagi masyarakat untuk berperilaku dan bersikap dalam setiap tataran kehidupan. Koentjaraningrat (1994:11) menyebut kebudayaan sebagai salah satu pedoman hidup terdiri dari beberapa unsur yang membangunnya, seperti sistem religi yang mengacu pada kepercayaan masyarakat setempat terhadap suatu hal yang memiliki kekuatan dan nilai magis; sistem masyarakat mengacu pada sistem kepemimpinan dan berbagai aturan dalam sebuah masyarakat; sistem pengetahuan yang mengacu pada pola pikir manusia tentang peralatan yang digunakannya dalam kehidupan sehari-hari; sistem bahasa mengacu pada alat komunikasi yang digunakan untuk berinteraksi dengan anggota kelompok; sistem kesenian mengacu pada patung, artefak, atau berbagai jenis permainan tradisional yang ada dalam sebuah komunitas; sistem mata pencaharian hidup yang berkaitan dengan aktivitas perekonomian yang ditekuni oleh sebuah masyarakat; serta sistem teknologi berkaitan dengan peralatan sederhana yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Nusa Tenggara Barat, misalnya sebagai salah satu provinsi yang ada pada bagian timur wilayah Indonesia, juga memiliki kebudayaan tersendiri yang mencirikan wilayah tersebut. Dua pulau di provinsi tersebut yaitu Lombok dan Sumbawa memiliki ragam budaya dan tradisi yang begitu khas. Dari sistem kepercayaan, masyarakat Sasak memiliki sistem kepercayaan animisme dan dinamisme, misalnya kepercayaan terhadap keberadaan arwah nenek moyang serta menganggap suatu benda (objek) memiliki nilai magis.

Dari sistem bahasa, masyarakat Sasak memiliki bahasa khas yaitu bahasa Sasak yang terdiri dari berbagai dialek seperti keto-kete, ngneo-ngene, dan meno-mene. Begitu juga dengan sistem kebudayaan lainnya yang patut digali keberadaannya. Selain itu dari sistem teknologi misalnya, masyarakat Sasak memiliki peralatan sederhana yang beraneka ragam. Salah satunya tekot.

Tekot adalah sebuah wadah pengganti piring yang terbuat dari daun pisang sekaligus pelengkap dalam kegiatan prosesi begawe (acara syukuran) yang diselenggarakan masyarakat suku Sasak. Baik dalam kegiatan begawe nyongkolan serta kegiatan syukuran lainnya, tekot adalah sebuah pelengkap dalam kegiatan tersebut. Tekot berbahan baku daun pisang yang disulap berbentuk mangkuk persegi panjang. Biasanya untuk membentuknya, digunakan lidi pada bagian tengah sebagai perekat agar tekot tidak cepat rusak dan bocor, sehingga nasi dan lauk-pauk yang ada di dalamnya tidak berserakan.

Pada prosesi begawe, masyarakat Sasak yang notabene merupakan suku yang mendiami Pulau Lombok, memfungsikan tekot sebagai peralatan sederhana yang digunakan masyarakat setempat, khususnya bagi anak-anak untuk menaruh nasi dan lauk-pauk, seperti ares (sayur-mayur berbahan baku batang pisang), empol (sayur-mayur berbahan baku batang kelapa muda), serta daging, sekaligus sebagai pengganti piring.

Biasanya, tekot yang telah berisi nasi serta lauk-pauk dibawa ke sebuah tibu (bendungan) secara beramai-ramai. Di tempat itulah, anak-anak makan bersama-sama dan menghabiskan nasi serta lauk-pauk yang ada di dalam tekot. Oleh karena itu, tekot tetap menjadi sebuah bagian penting yang melengkapi proses begawe dan kegiatan syukuran lainnya. Salah satu nilai filosofis dari tekot adalah sebagai bentuk kesederhanaan masyarakat Sasak. Dengan berbahan baku daun pisang, menjadi sebuah representasi bahwa masyarakat menjunjung tinggi kehidupan yang bersifat sederhana dan tidak hedonisme (berlebih-lebihan).

Tekot menyimbolkan kesejajaran dan tidak memandang jabatan yang dimiliki oleh semua elemen masyarakat. Sebab, semua kalangan memiliki bentuk tekot yang serupa sekaligus tonggak dari sistem yang wajar, damai dan apa adanya. Selain itu, tekot juga sebagai simbol kebersamaan. Sebab dalam setiap prosesi, masyarakat Sasak lebih mengutamakan asas kebersamaan (asas beriuk anyong saling sedok). Sehingga berbagai persoalan dan kegiatan lain yang bernilai positif, dilakukan secara kolektif (bersama-sama). Hal itu bertujuan agar segala aktivitas dan tindakan cepat terselesaikan.

Beberapa nilai filosofis ini menjadi landasan dasar bagi masyarakat untuk tetap berada pada tataran hidup yang sesuai dengan tuntunan para leluhur, baik memberikan rasa hormat pada yang lebih tua, memberikan kasih sayang pada yang sebaya dan lebih muda, serta menjunjung tinggi asas kesederhanaan dengan tidak menonjolkan sikap sombong atau pamer dan wajar. Namun seiring berkembangnya zaman, berbagai bentuk kebudayaan yang telah mengakar di tengah masyarakat mulai terkikis keberadaannya. Sebagai bentuk sistem teknologi masyarakat Sasak, tekot mulai hilang dari sisi sosiologis masyarakat setempat.

Tekot seolah hilang ditelan zaman seiring berkembangnya arus modernisasi. Seiring berkembangnya zaman, berbagai bentuk kebudayaan (kearifan lokal) yang bernuansa tradisional, mulai luntur bahkan lenyap dari sistem kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan peralatan sederhana berupa tekot yang tak lagi muncul dari kehidupan masyarakat suku Sasak. Oleh sebab itu, berbagai bentuk kebudayaan, baik berupa tekot dan sistem kebudayaan lainnya perlu menjadi sorotan utama bagi pemerintah agar tetap menunjukkan eksistensinya. Masyarakat Sasak perlu memberikan apresiasi dan penghayatan yang mendalam terhadap berbagai bentuk kebudayaan yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Sebab, semua bentuk sistem kebudayaan memiliki nilai filosofis yang begitu tinggi. Selain masyarakat sipil, pemerintah juga harus ikut andil melestarikannya. Salah satunya dengan mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran di sekolah. Lebih-lebih, kurikulum 2013 lebih condong pada pembelajaran yang bersifat kontekstual (sesuai dengan konteks keberadaan dan pembelajaran di sekolah).

Sumber rujukan:

Koentjaraningrat. (1994). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

*Staf pengajar di FKIP UNIQHBA Loteng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *