Ideologi Kapitalis Mematikan Budaya Lokal

Hamjah Diha*

Hamjahdiha.or.id- Pola kehidupan masyarakat global memberikan peluang untuk “dibukanya” kran segala informasi seluas-luasnya sehingga agen-agen kapitalis memanfaatkan peluang tersebut. Peluang tersebut dimanfaatkan betul oleh agen kapitalis untuk membentuk jaringan semiotika kehidupan melalui berbagai produknya (barang, hiburan, dan tontonan) yang pada akhirnya masyarakat secara pelan-pelan menerima cara hidup, gaya hidup, dan bahkan pandangan hidup yang mengancam eksistensi berbagai bentuk warisan adat, kebiasaan, nilai, identitas, dan simbol-simbol yang berasal dari budaya lokal, Pilang (2001:208).

Masyarakat global merupakan masyarakat yang dibangun di atas iklim persaingan yang ketat (high competetion). Persaingan antar kelompok, persaingan antar perusahan dan bahkan persaingan antar individu. Sehingga muncullan pemahaman mayarakat tentang penampilan; gaya hidup (life style)dan sejenisnya. Dalam kalimat lain, bahwa masyarakat tidak lagi melihat sesuatu (barang) itu pada fungsinya, akan tetapi masyarakat melihat sesuatu (barang) itu pada simbolik semata. Oleh karena itu meminjam istilahnya Piliang bahwa kapitalis global disebut mesih “pemenuhan hasrat”. Dalam artian bahwa barang-barang yang dipoduk oleh kapitalis merupakan salah satu cara untuk mendorong hasrat masyarakat untuk merubah diri tanpa batas.

Merubah diri dengan barang-barang mewah tanpa melihat esensi atau fungsi dari barang tersebut melainkan pada simbolik. Fenomena di tersebut merupakan sebuah keberhasilan kaum kapitalis dalam upaya mengehegemoni masyarakat untuk selalu merubah diri. Masyarakat tak henti-hentinya merubah diri dengan barang-barang yang ditawarkan oleh kaum kapitalis. Bibalik produk yang ditawarkan oleh kaum kapitalis, ada ideologi yang tersembunyi di dalamnya. Masyarakat melihat bahwa sesuatu (barang) itu bukan lagi bersifat fungsional (pemenuhan kebutuhan dasar semata), melaikan sebagai usaha pemaknaan sosial. Dalam artian bahwa masyarakat dewasa ini ingin menunjukan kepada publik bahwa mereka memiliki barang yang mewah serta mahal. Barang-barang itu sebagai penanda bahwa kualitas kehidupan mereka semakin meningkat. Pembentukan makna sosial pada setiap individu melalui gaya hidup (pemakian mobil mewah, fashion, dan simbol-simbol yang lain) sebagai upaya untuk melakukan pencitraan.

Hadirnya gaya hidup (life style) secara tidak langsung mematikan budaya lokal yang kaya nilai. Budaya melancong (life style) telah berhasil merebut hati masyarakat pribumi. Fenomena ini, Bourdieu melihat sebagai “praktik sosial”. Teori prakik sosial yang diperjuangkan oleh pemikir Prancis, Bourdieu memposisikan suatu prakik sosial sebagai tiga tumpuan, yakni habitus, modal, dan ranah, Wahid (2016 : 9). Habitus sebagai konsep yang dikembangkan oleh Bourdieu untuk memahami sumber-sumber budaya terhadap subjektivitas dari para aktor sosial, Peter Jakson dalam Edkins (2009 : 139). Habitus merupakan mesin pengerak budaya sehingga memungkinkan budayabudaya lokal dikonstuksi mengikuti perkembangan zaman tanpa melihat fungsi dan makna. Makna budaya lokal akan terus mengalami pergeresan. Dalam artian bahwa penggunaan budaya lokal hanya sebatas sebagai simbolik semata tidak digunakan sebagai esensial. Praktik adalah produk dari relasi antara habitus dengan ranah, yang keduanya merupakan produk sejarah, dalam ranah inilah ada petarungan kekuatan antarorang yang memiliki moda, Wahid (2016 : 9). Modal yang dimaksudkan di sini bukan hanya modal kapital, melainkan juga dimaknai sebagai modal sosial– budaya.

Modal sosial–budaya inilah sebagai mesin pengerak sehingga budaya lokal dapat disingkirkan oleh pemiliknya sendiri dan mengantikan dengan budaya luar (Barat). Menyimak pandangan Bourdieu tersebut, maka budaya sebagai praktik yang terstruktur. Maka praktik budaya rimpu dapat dilihat sebagai suatu teks yang dapat dibaca secara sistimatik dengan menjelaskan aspek-aspek yang mempengaruhinya sehingga terjadinya pergeseran nilai pada masa kekinian.

Dalam praktik budaya rimpu, penulis menduga bahwa ada agen yang berusaha merubah makna dalam budaya rimpu tersebut. Budaya rimpu yang awalnya digunakan sebagai alat penutup aurat bagi kaum perempuan Bima, kina sudah bergeser menjadi alat untuk menahan matahari dan lain sebagainya. Dalam kalimat lain bahwa budaya rimpu tidak lagi dijadikan sebagai alat penutup aurat.

Bahan Rujukan  

Edkins, Jenny, Nick Vaughan Williams (Ed). 2009. Teori-Teori Kritis; Menantang Pandangan Utama Studi Politik Internasional.

Jones, Tod. 2015. Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia; Kebijakan Budaya Selama Abad Ke-20 Hingga Era reformasi. Yayasan Pusakan Obor Jakarta

Wahid, Abdul. 2016. Praktik Budaya Raju dalam Pluralitass Dou Mbawa di Bima, Nusa Tenggara Barat. Disertasi Kajian Budaya UNUD

Piliang, Yasraf Amir. 2011. Dunia Yang Dilipat; Tamasya Melampai Batas-Batas Kebudayaan. Matahari

*(Staf Pengajar di FKIP UNIQHBA dan Ketua Dewan Pembina Hamjah Diha Foundation)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *