Asih Ingin Masuk Sekolah, Pak.. (Catatan Lain Tentang PJJ)

Oleh: Yuni Anita
Asih membuka jendela kamarnya.  Hawa pagi begitu saja menyeruak masuk bercampur dengan bau tanah karena hujan semalam.  Di tempat tidur,  Bani adiknya masih menggelung tubuhnya karena hawa dingin.

“Ssst,  Bani,  bangun.., ” bisik Asih sambil menggoyang-goyangkan tubuh adiknya.

Bani menggeliat malas. 

“Sebentar.., ” jawabnya sambil kembali tertidur.

“Bani..,  ayo bangun..  ,” bisik Asih lagi. 

“Itu,  bapak sudah mau berangkat, “

Mendengar kata bapak, Bani langsung melebarkan matanya.  Dengan kaki kaki gendutnya ia berlari ke depan.  Di ruang tamu bapak sudah siap berangkat.

“Bapak berangkat dulu ya.., ” kata bapak sambil mengulurkan tangan.  Satu persatu mereka salim.

“Mudah-mudahan dapat uang banyak ya Pak.., “kata Bani

Bapak tertawa dan mengangguk.

“Kalau dapat uang banyak belikan mobil-mobilan ya Pak..,  ” tambah Bani.

“Iya le..,  ” jawab bapak sabar.

Ketika Asih mengulurkan tangannya untuk salim bapak mengelus kepalanya.

“Bantu ibumu ya Nduk, “

“Iya Lak, ” jawab Asih sambil mencium tangan bapaknya.

Bapak Asih bekerja sebagai penjual nasi pecel keliling.  Tiap pagi hingga siang hari stand by di depan sebuah pasar. Sementara ibu juga berjualan pecel dan gorengan tapi di depan rumah. Rumah mereka yang kecil semakin ramai pada pagi hari.  Suara ibu yang memasak dan bapak yang menyiapkan gerobak untuk jualan.

Di dapur suara penggorengan menunjukkan ibu masih sibuk  memasak.  Tiba-tiba terdengar rengekan tangis bayi.

“Siiih, ” teriak ibu sambil meneruskan pekerjaannya. Tanpa dikomando kedua kalinya Asih bergegas ke kamar dan segera menggendong adiknya.  Dengan sabar tangan-tangan kecilnya mengelus kepala si kecil yang masih merengek.

Tak berapa lama ibu menghampiri Asih,  meraih bayi dan menggendong dengan selendang. 

“Wes,  ajak Bani mandi, ” kata ibu kemudian.  Asih membujuk Bani,  lalu segera mengajaknya ke kamar mandi. 

Asih sebagai anak sulung sangat ditaati oleh adiknya.  Ia selalu memperlakukan Bani bahkan si bayi dengan penuh kasih sayang.  Karena itulah di saat pandemi ini di mana siswa harus belajar dari rumah ada keberkahan sendiri bagi keluarganya.  Ibu jadi lebih leluasa bekerja di dapur dan berjualan karena ada Asih yang menjaga adik-adiknya.

“Sst,  Sih,  kamu dicari Bu Ani, ” bisik Fio siang itu.  Fio adalah teman sekelas juga tetangganya.

Deg..Dada Asih berdegup kencang.  “Oh ya?  Di grup? ” tanya Asih. Fio mengangguk.

” Hari ini ada empat anak tidak ikut pembelajaran.  Termasuk kamu.  Yang dua sakit,  yang satu izin,  katanya adiknya dikhitan.  Dan cuma kamu yang tidak ada keterangan, ” sambung Fio prihatin. Pandangan Asih menerawang sedih sambil tangannya mengelus-elus kepala adik dalam gendongannya. 

Pembelajaran daring ini sungguh menyimpan banyak masalah.  Asih yang biasanya rajin dan pintar di kelas kini jarang bisa masuk kelas.  Bagaimana tidak?  Hp tidak punya,  laptop apa lagi.  Sesekali ia bisa pinjam HP paklik Mamat,  adik bapak,  tapi itupun dipakai kerja.  Asih bisa menggunakan hp itu agak lama pas hari Sabtu karena paklik Mamat libur.

Nah hari Sabtu itulah semua pekerjaan sekolah yang belum beres dibereskannya.  Tapi mengerjakan tugas seminggu dalam waktu satu hari tentunya sangat berat.  Banyak tugas yang tak terselesaikan. 

Suatu saat ibu wali kelas dan BKnya datang ke rumah dan memberikan tawaran agar Asih belajar di sekolah,  di labkom bersama beberapa anak dengan kasus yang sama.  Tapi entah kenapa bapak dan ibu tak mengizinkannya. 

Siang itu sesudah mencuci piring Asih duduk di ruang tamu sambil membuka-buka buku pelajarannya. 

“Assalamu alaikum, ” sebuah suara salam memecahkan konsentrasinya.  Di depan pintu sudah berdiri Dito ketua kelasnya .

“Masuk” kata Asih sambil membukakan pintu.

“Eh,  kenapa tidak masuk?  Aku diminta bu Endah wali kelas untuk menanyakan kabarmu? “

Asih menghela nafas panjang.  “Aku tidak ada HP Dit,  ..”

“Tadi juga dititipi ini,  ” kata Dito sambil menyodorkan sebuah surat panggilan.  Asih menerima dengan tangan gemetar.  Buat bapak,  batinnya.

Dito segera pulang ketika ibu memanggil Asih kembali untuk menyuapi Bani. 

“Sih,  sini, ” kata bapak sore itu di teras rumah.  Sambil menikmati kopi bapak memandang anak sulungnya agak lama. 

“Kalau Asih ikut belajar di lab sekolah tidak apa apa? ” tanya bapak kemudian.

“Mau, Pak,  mau…, ” jawab Asih cepat.

“Eh.. Tapi adik-adik? ” tanya Asih ragu.

Bapak menggeleng. “Itu tanggung jawab ibu dan bapak,  yang penting kamu besok ke sekolah,  diantar bapak.. Membantu ibumu nanti pulang sekolah saja..  Cuma sampai jam 12 kan? ” kata bapak lagi.

 Asih memeluk bapak dengan gembira.  Bapak mengelus kepala anaknya dengan terharu. 

Sebentar lagi ia harus memberikan pengertian pada istrinya bahwa tugas utama Asih adalah belajar. Bukan momong adik-adiknya seperti yang biasa dilakukannya selama ini sehingga tidak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah.

Sumber : https://www.kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *