Jilbab, dari Pembebasan ke Penindasan?

Oleh: Ilyas Yasin*

Dalam wawancaranya dengan Jurnal Islamika tahun 1994,  Profesor Issa J. Bouletta memuji perkembangan Islam Indonesia. Guru besar tafsir ini menyatakan, dibandingkan  negara  Arab,  kaum muslim Indonesia sudah melakukan lompatan besar terutama dalam hal kebebasan dan kesetaraan kaum wanita. Dia kagum karena sudah banyak wanita yang menjadi  menteri, direktur atau pejabat tinggi lainnya.  Di Indonesia, katanya, wanita berjilbab bahkan bebas menyetir  kendaraannya sendiri di jalan-jalan atau melakukan aktivitas di ruang publik—sesuatu yang belum banyak terjadi di negara-negara Arab.

Di Arab Saudi sendiri—negara yang menjadi pusat gravitasi spiritual maupun  pendidikan keagamaan kaum muslim—baru tahun 2017  membolehkan kaum wanita menyetir kendaraan. Sebelumnya, hal itu secara resmi  dilarang di negara tersebut. Secara khusus, Bouletta  juga mengapresiasi fenomena ‘globalisasi’ pemakaian jilbab di Tanah Air yang mulai marak saat itu.

Beberapa waktu lalu, ketika saya memposting foto santai  dengan seorang mahasiswi saya yang bercadar, banyak  pihak yang kaget. Dari komentar-komentar yang ada,  mereka seolah tak percaya seorang muslimah bercadar  ‘berani’  berswafoto dengan pria bukan muhrimnya. Hal itu dianggap aneh dan tak lazim. Bahkan seorang lagi terang-terangan menyampaikan protesnya. Menurutnya, seorang muslimah diharamkan bertemu dan berduaan dengan bukan muhrimnya.

Kekaguman Bouletta maupun kekagetan serta protes pada foto saya di atas sepenuhnya bisa dipahami. Sebelum  ini, bahkan hingga kini, pemakaian jilbab apalagi  cadar di sebagian besar komunitas muslim khususnya di Arab adalah simbol  penindasan atas kebebasan kaum wanita.  Jilbab dan cadar merupakan representasi segregasi dan pembatasan kaum hawa di ruang publik. Dalam sejarahnya yang awal, busana itu mewakili sebuah pemahaman dan ekspresi keagamaan bahwa kaum wanita sepenuhnya adalah makhluk privat. Dalam konteks  relasi-kuasa,  jilbab dan  cadar  adalah medium yang digunakan  untuk  mengontrol “tubuh” perempuan  yang dibangun berdasarkan pemahaman patriarkis. Politik tubuh wanita tersebut berlangsung baik  dalam lingkungan domestik maupun yang disahkan melalui institusi  kekuasaan  negara.

Karena itu,  dalam fikih Islam khususnya pernikahan berkembang dua  konsep  yakni ‘aqd tamlik dan ‘aqd ‘ibadah. Pandangan pertama, pernikahan sebagai ‘aqd tamlik (kontrak kepemilikan)  dipelopori mazhab Syafi’i. Menurut pandangan ini, suami (atau pria) adalah pemilik dan penguasa atas istri. Sedangkan dalam pandangan kedua, perkawinan dipahami sebagai kontrak menghalalkan sesuatu yang semula haram. Dalam pandangan kedua ini, istri (wanita) memiliki otonomi dan posisi yang sejajar dengan suami (Qibtiyah, 2003).

.Dengan setting seperti di atas itu, bisa dipahami jika orang kaget dengan tampilnya muslimah berhijab  di ruang publik atau melakukan aktivitas  sebagaimana kaum pria. Terlepas   apakah  pemakaian hijab itu berdasarkan motif  keagamaan atau sekadar fesyen, yang pasti globalisasi busana itu mewakili era baru yakni kebebasan kaum wanita. Hijab adalah simbol liberasi. 

Di Indonesia  transformasi  jilbab atau hijab menunjukkan fenomena dramatis. Pada awal 1980-an pemakaian jilbab tidak seramai sekarang. Di zaman itu jilbab telah menjadi simbol perlawanan terhadap rezim Soeharto yang ‘sekuler’ dan tiranik. Sejumlah remaja muslim yang memutuskan berbusana jilbab menghadapi tekanan dan ancaman yang tidak ringan. Mereka yang mencoba berjilbab karena keyakinan agamanya itu ditolak oleh sekolahnya atau dipersulit di tempat kerja. Keluarga mereka ikut menjadi korban tindakan teror dan intimidasi dari pihak-pihak tertentu.  Sebagian siswa muslim bahkan ada yang dikeluarkan oleh sekolahnya hanya karena berjilbab.

Ada juga sekolah yang memaksa siswi berjilbab  membuka jilbabnya saat pemotretan foto ijazah dengan alasan bahwa pasfoto harus memperlihatkan bagian telinga. Sebuah  alasan yang absurd bahkan konyol karena tidak jelas logikanya  antara pasfoto dengan kecerdasan atau kompetensi seseorang.  Belum reda ketegangan kebolehan berjilbab sebagai bagian dari pakaian seragam sekolah, lalu beredar lagi rumor yang menghubungkan pemakai jilbab sebagai  pengedar racun. Penyebabnya, konon ditemukan seorang muslimah berjilbab mengedarkan racun di  tempat umum. Rumor itu makin menyulitkan para remaja yang berjuang menutup aurat sesuai perintah agamanya. Mereka harus menghadapi kecurigaan, cibiran bahkan fitnahan.  Setelah melalui perjuangan yang panjang, termasuk proses peradilan, akhirnya pemakaian jilbab dibolehkan termasuk di lingkungan kepolisian dan militer. Singkatnya, jilbab di zaman Orde Baru telah menjadi simbol perjuangan dan pembebasan dari rezim otoriter.

Selanjutnya, seiring keberhasilan dakwah Islam kini pemakaian jilbab atau busana muslimah telah menjadi hal yang biasa baik di kantor, sekolah, tempat-tempat umum maupun di acara-acara resmi. Malah ada kesan, muslimah yang tak berjilbab terlihat ‘aneh’ di mata publik. Tetapi, jika saja Bouletta berkunjung lagi ke Indonesia dan mencermati  “sentimen jilbab” dalam beberapa  tahun terakhir, kira-kira apa yang akan dikatakannya terkait fenomena sosial jilbab? Benarkah jilbab menjadi simbol pembebasan atau liberasi seperti dikatakannya  27  tahun  silam?

Siapapun yang mencermati perkembangan terakhir ini, terutama setelah dipicu oleh beberapa selebritas yang melepas jilbab, niscaya akan mendapati kenyataan yang miris terkait busana muslimah ini. Pasca kasus Rina Nose  atau yang terbaru, pemaksaan  pemakaian jilbab bagi siswi nonmuslim di sebuah SMA negeri di Kota Padang dan Jember, misalnya, kita justeru melihat perubahan watak keislaman kaum muslim Indonesia dari yang moderat ke semangat penghakiman. Kasus Rina seolah menjadi klimaks dari sentimen negatif  pemakaian jilbab. Sebelumnya ada pesohor yang melepas jilbab setelah sempat memakainya seperti Trie Utami atau Marshanda tapi tidak “seganas” pada  Rina.  Meski sempat heboh  tapi hanya sesaat. Setelah berlalu orang  melupakannya.

Pada Rina berbeda; ia dicerca habis-habisan terutama oleh netizen. Ia dituduh tidak istiqomah, kendati  tak ada seorangpun yang dirugikan oleh tindakannya. Itu keputusan dan hak pribadinya untuk berjilbab atau tidak. Seharusnya orang menghormati apapun pilihannya. Kendati  tidak semua pencerca Rina adalah perempuan, atau perempuan berjilbab, namun banyaknya yang memilih bungkam ketimbang memberikan pembelaan atas nasib Rina menunjukkan bahwa seolah membenarkan adanya perubahan watak moderat kaum muslim Indonesia. Boleh jadi mayoritas yang diam (silent majority) itu takut ikut dicerca. Mereka lebih memilih cara aman daripada menjadi korban habis-habisan oleh netizen. Meski Rina menanggapi semua cercaan itu dengan rendah hati, namun tetap saja ia menjadi bulan-bulanan.

Jika berkaca pada kasus Rina saya melihat terjadi pergeseran dalam konteks jilbab. Jika sebelumnya ia menjadi simbol pembebasan atau perlawanan maka kini telah  menjadi simbol  penindasan. Para pemakai atau pendukungnya menjadikan atribut dan identitas keagamaan tersebut justeru untuk menindas mereka yang tidak berjilbab. Juga untuk mencerca mereka yang berbeda. Jika ini terus terjadi jangan-jangan berbagai atribut keagamaan lainnya tidak lagi menjadi simbol untuk mengirimkan pesan-pesan damai—sebagaimana misi agama—tetapi telah menjadi alat untuk menindas mereka yang berbeda.

Menyedihkan jika agama lebih banyak berisi ancaman dan kecaman ketimbang cinta dan kasih. Agama, termasuk simbol-simbolnya, kini telah bertransformasi menjadi simbol kemarahan dan kebencian. Agama tidak lagi menjadi “tempat kembali”  bagi mereka yang kotor dan berdosa, tapi menjadi ruang penghakiman, penyiksaan dan balas dendam. Tuhan bukan lagi sosok yang lembut dan mengayomi dengan segenap sifat pemurah dan penyayang-Nya yang tak terbatas, tetapi telah berubah menjadi zat yang mahabengis, pendendam, dan pemarah.

Tuhan telah menjadi sosok yang angker dan menakutkan. Di tangan mereka yang mengaku sebagai hamba-Nya, tuhan telah bertransformasi menjadi monster yang menakutkan dan menyeramkan. Para hamba itu lebih kejam daripada Tuhan. Mereka bahkan hendak merampas otoritas Tuhan karena  dengan enteng  mencap orang lain itu ‘kafir’, sesat, ahli neraka dan lain-lain. Padahal tuhan mengingatkan “Janganlah kalian merampas selendangku (baca: kewenangan)!” .

Inilah ironi dari watak anomali agama itu, yakni ketika seorang hamba merasa lebih berkuasa atas tuhannya. Mereka menuhankan agama. Mereka memaksa tuhan agar mengikuti keinginan dan tafsir mereka. Secara teoretis, semakin alim seseorang seharusnya semakin membuatnya rendah hati; semakin sadar akan keterbatasan diri. Tapi tidak  bagi orang-orang ini. Mereka bukan saja telah merampas selendang tuhan melainkan telah menjadi tuhan itu sendiri!

*Peneulis adalah dosen STKIP YAPIS DOMPU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *